5 Kesalahan Finansial Anak Muda di Usia 20-an

Pelajari 5 kesalahan finansial yang sering dilakukan anak muda di usia 20-an. Membangun kebiasaan finansial yang baik sangat penting untuk masa depan yang lebih stabil dan sejahtera. Hindari kesalahan yang dapat mengganggu keuangan Anda dan mulai kelola uang dengan bijak.

4 PILAR

8/8/20265 min read

photo of white staircase
photo of white staircase

Hari 49: 5 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda Usia 20-an

"Usia 20-an bukan tentang menjadi kaya secepat mungkin, tetapi tentang membangun kebiasaan finansial yang akan menentukan kualitas hidup di masa depan."

Pendahuluan

Memasuki usia 20-an merupakan fase transisi yang penuh tantangan sekaligus peluang. Pada periode ini, sebagian besar anak muda mulai memperoleh penghasilan sendiri, baik melalui pekerjaan tetap, usaha, pekerjaan lepas (freelance), maupun berbagai aktivitas ekonomi digital. Kebebasan finansial yang mulai dirasakan sering kali memberikan rasa percaya diri, tetapi juga membawa risiko apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan.

Ironisnya, banyak anak muda justru melakukan berbagai kesalahan finansial pada fase awal kehidupan produktif mereka. Kesalahan tersebut mungkin tampak kecil, seperti membeli barang secara impulsif atau menunda menabung, tetapi jika dilakukan terus-menerus dapat berdampak besar terhadap kondisi keuangan di masa depan. Tidak sedikit orang yang memasuki usia 30-an dengan utang yang menumpuk, tidak memiliki dana darurat, bahkan belum memiliki investasi sama sekali karena kebiasaan finansial yang kurang sehat sejak usia muda.

Literasi keuangan menjadi salah satu keterampilan penting abad ke-21. Seseorang tidak harus memiliki penghasilan besar untuk mencapai kondisi keuangan yang sehat. Sebaliknya, kemampuan mengatur pendapatan, mengendalikan pengeluaran, serta merencanakan masa depan jauh lebih menentukan dibandingkan besarnya gaji yang diterima.

Lalu, apa saja kesalahan finansial yang paling sering dilakukan oleh anak muda usia 20-an? Berikut lima di antaranya beserta solusi yang dapat diterapkan.

1. Menghabiskan Seluruh Penghasilan Tanpa Menabung

Kesalahan pertama yang paling umum adalah menganggap seluruh penghasilan sebagai uang yang siap dibelanjakan. Banyak orang memiliki pola pikir:

"Nanti kalau gaji naik, baru mulai menabung."

Padahal, kebiasaan finansial tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan oleh cara seseorang mengelolanya. Jika seseorang terbiasa menghabiskan seluruh pendapatannya saat bergaji Rp3 juta, besar kemungkinan kebiasaan tersebut tetap berlanjut ketika penghasilannya meningkat menjadi Rp8 juta atau lebih.

Ilustrasi

Bayangkan dua orang yang memiliki penghasilan sama sebesar Rp5.000.000 per bulan.

Andi

  • Penghasilan: Rp5.000.000

  • Tabungan: Rp0

  • Pengeluaran: Rp5.000.000

Budi

  • Penghasilan: Rp5.000.000

  • Menabung 20% (Rp1.000.000)

  • Pengeluaran: Rp4.000.000

Dalam satu tahun:

  • Andi memiliki tabungan Rp0.

  • Budi memiliki tabungan Rp12.000.000 (belum termasuk bunga atau hasil investasi).

Perbedaannya bukan pada besarnya gaji, tetapi pada kebiasaan mengelola uang.

Solusi

Gunakan prinsip "Pay Yourself First", yaitu menyisihkan tabungan atau investasi segera setelah menerima penghasilan, bukan menunggu sisa di akhir bulan.

2. Terjebak Gaya Hidup Konsumtif (Lifestyle Inflation)

Ketika pendapatan meningkat, banyak anak muda secara otomatis meningkatkan gaya hidupnya. Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu kenaikan pengeluaran yang mengikuti kenaikan pendapatan.

Contohnya:

  • Gaji naik → membeli ponsel terbaru.

  • Bonus tahunan → membeli kendaraan baru.

  • Naik jabatan → lebih sering makan di restoran mahal.

Padahal, peningkatan gaya hidup yang tidak terkontrol dapat menghambat pencapaian tujuan keuangan jangka panjang.

Ilustrasi

Misalnya, seseorang memperoleh kenaikan gaji sebesar Rp2.000.000 per bulan.

Pilihan pertama:

  • Seluruh tambahan penghasilan digunakan untuk kebutuhan konsumtif.

Pilihan kedua:

  • Rp1.000.000 dialokasikan untuk investasi.

  • Rp500.000 ditabung.

  • Rp500.000 digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Pilihan kedua memberikan keseimbangan antara menikmati hasil kerja dan mempersiapkan masa depan.

Solusi

Sebelum meningkatkan gaya hidup, tanyakan pada diri sendiri:

  • Apakah kebutuhan ini benar-benar penting?

  • Apakah pengeluaran ini mendukung tujuan jangka panjang?

  • Apakah saya masih memiliki ruang untuk menabung dan berinvestasi?

3. Menggunakan Utang Konsumtif Secara Berlebihan

Kemudahan akses terhadap layanan Buy Now Pay Later (BNPL), kartu kredit, dan pinjaman digital membuat banyak anak muda tergoda untuk membeli barang yang sebenarnya belum mampu mereka bayar secara tunai.

Utang produktif, seperti pinjaman untuk pendidikan atau modal usaha, dapat memberikan manfaat apabila dikelola dengan baik. Sebaliknya, utang konsumtif untuk memenuhi gaya hidup sering kali menjadi beban finansial yang berkepanjangan.

Contoh Kasus

Seorang pekerja muda memiliki gaji Rp6.000.000.

Setiap bulan ia harus membayar:

  • Cicilan ponsel.

  • Cicilan laptop.

  • Cicilan motor.

  • Tagihan kartu kredit.

  • Pembayaran layanan BNPL.

Akibatnya, sebagian besar penghasilannya habis untuk membayar cicilan sebelum memenuhi kebutuhan pokok.

Solusi

Beberapa prinsip yang dapat diterapkan antara lain:

  • Hindari membeli barang hanya karena tersedia fasilitas cicilan.

  • Pastikan total cicilan tidak melebihi sekitar 30% dari pendapatan bulanan.

  • Prioritaskan pelunasan utang dengan bunga tinggi terlebih dahulu.

4. Tidak Memiliki Dana Darurat

Banyak anak muda berpikir bahwa dana darurat belum diperlukan karena masih lajang atau belum memiliki tanggungan keluarga. Padahal, keadaan tidak terduga dapat terjadi kapan saja, seperti:

  • kehilangan pekerjaan,

  • kecelakaan,

  • biaya kesehatan,

  • kerusakan kendaraan,

  • kebutuhan keluarga mendadak.

Tanpa dana darurat, seseorang cenderung menggunakan utang sebagai solusi.

Ilustrasi

Bayangkan seorang pekerja kehilangan pekerjaan selama tiga bulan.

Tanpa dana darurat

  • Meminjam uang.

  • Menggunakan kartu kredit.

  • Menjual aset.

Dengan dana darurat

  • Tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar.

  • Memiliki waktu mencari pekerjaan baru tanpa tekanan finansial yang berlebihan.

Berapa Dana Darurat yang Ideal?

Secara umum:

  • Lajang: 3–6 kali pengeluaran bulanan.

  • Menikah: 6–12 kali pengeluaran bulanan.

Dana darurat sebaiknya disimpan pada instrumen yang aman, mudah dicairkan, dan memiliki risiko rendah.

5. Menunda Investasi Karena Merasa Masih Muda

Kesalahan terakhir yang paling sering terjadi adalah menunda investasi.

Banyak orang berkata:

"Nanti saja investasi kalau penghasilan sudah besar."

Padahal, waktu merupakan faktor terpenting dalam investasi karena adanya efek bunga majemuk (compound growth), yaitu keuntungan yang terus berkembang dari hasil investasi sebelumnya.

Ilustrasi Sederhana

Misalnya:

Orang A

Mulai berinvestasi pada usia 22 tahun.

Orang B

Mulai berinvestasi pada usia 32 tahun.

Keduanya menginvestasikan jumlah yang sama setiap bulan dengan tingkat imbal hasil yang sama.

Walaupun jumlah investasi bulanan identik, Orang A berpotensi memiliki nilai investasi yang jauh lebih besar karena memiliki waktu investasi lebih panjang.

Artinya, memulai lebih awal sering kali lebih penting daripada menunggu memiliki modal yang besar.

Solusi

Mulailah dari nominal kecil namun konsisten. Saat ini tersedia berbagai instrumen investasi yang dapat diakses dengan modal relatif terjangkau sehingga anak muda dapat mulai membangun kebiasaan berinvestasi sejak dini.

Ilustrasi Ringkas: Kesalahan vs Kebiasaan yang Tepat

Kesalahan Finansial

Kebiasaan yang Lebih Baik

Menghabiskan seluruh gaji

Menabung terlebih dahulu setiap menerima penghasilan

Gaya hidup terus meningkat

Menjaga pengeluaran tetap proporsional

Terlalu banyak cicilan

Menggunakan utang secara bijaksana dan terbatas

Tidak memiliki dana darurat

Menyisihkan dana untuk kebutuhan tak terduga

Menunda investasi

Mulai berinvestasi sedini mungkin secara konsisten

Membangun Kebiasaan Finansial yang Sehat

Selain menghindari lima kesalahan di atas, anak muda juga dapat membangun fondasi keuangan yang kuat melalui beberapa kebiasaan sederhana berikut:

  • Membuat anggaran bulanan dan mencatat pengeluaran.

  • Menetapkan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang.

  • Meningkatkan literasi keuangan melalui buku, seminar, atau kursus daring.

  • Menghindari pembelian impulsif dengan menerapkan aturan "tunda 24 jam" sebelum membeli barang yang tidak mendesak.

  • Mengembangkan sumber pendapatan tambahan, seperti pekerjaan lepas, bisnis kecil, atau investasi yang sesuai dengan profil risiko.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut akan membantu seseorang memiliki kontrol yang lebih baik terhadap kondisi keuangannya dan mengurangi risiko mengalami masalah finansial di masa depan.

Penutup

Usia 20-an adalah masa terbaik untuk membangun fondasi keuangan yang kokoh. Kesalahan finansial pada periode ini memang wajar terjadi, tetapi akan jauh lebih baik jika dapat dikenali dan diperbaiki sejak dini. Menghabiskan seluruh penghasilan, terjebak gaya hidup konsumtif, menggunakan utang secara berlebihan, mengabaikan dana darurat, serta menunda investasi merupakan lima kesalahan yang paling sering menghambat tercapainya kebebasan finansial.

Kabar baiknya, semua kesalahan tersebut dapat dihindari melalui perubahan kebiasaan yang sederhana namun konsisten. Menabung sebelum membelanjakan uang, hidup sesuai kemampuan, membatasi utang, mempersiapkan dana darurat, dan mulai berinvestasi sejak muda merupakan langkah-langkah nyata yang dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus menunggu memiliki penghasilan besar.

Ingatlah bahwa keberhasilan finansial bukan ditentukan oleh seberapa besar pendapatan yang dimiliki, melainkan oleh bagaimana seseorang mengelola setiap rupiah yang diperolehnya. Dengan literasi keuangan yang baik dan disiplin dalam mengambil keputusan finansial, masa muda dapat menjadi titik awal menuju kehidupan yang lebih sejahtera, mandiri, dan bebas dari tekanan ekonomi di masa depan.

Daftar Pustaka

Financial Planning Standards Board. (2023). Global Consumer Research 2023. FPSB.

Lusardi, A. (2019). Financial literacy and the need for financial education: Evidence and implications. Swiss Journal of Economics and Statistics, 155(1), 1–8.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2020). OECD/INFE 2020 International Survey of Adult Financial Literacy. OECD Publishing.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). OECD Economic Outlook 2023. OECD Publishing.

Otoritas Jasa Keuangan. (2022). Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021–2025. Otoritas Jasa Keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan. (2024). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024. Otoritas Jasa Keuangan.

World Bank. (2022). Global Findex Database 2021: Financial Inclusion, Digital Payments, and Resilience in the Age of COVID-19. World Bank.

World Economic Forum. (2023). The Future of Jobs Report 2023. World Economic Forum.

Xiao, J. J., & Porto, N. (2017). Financial education and financial satisfaction: Financial literacy, behavior, and capability as mediators. International Journal of Bank Marketing, 35(5), 805–817.

Inspirasi

Kolaborasi

Pembelajaran

info@ruangpemuda.info

085145459727

© 2024. All rights reserved.