Memahami Diglosia dalam Sosiolinguistik

Pelajari tentang diglosia dan fungsi bahasa dalam masyarakat Indonesia. Fokus pada penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, serta contoh dari masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Mata kuliah sosiolinguistik ini ditujukan untuk mahasiswa yang ingin mendalami topik ini.

SOSIOLINGUISTIK

10/16/202617 min read

a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down the side of a ramp

RUANG PEMUDA

MATERI AJAR SOSIOLINGUISTIK

BAB 7 – DIGLOSIA

Memahami Pembagian Fungsi Bahasa dalam Kehidupan Masyarakat

Mata Kuliah: Sosiolinguistik
Topik: Diglosia (Diglossia)
Sasaran: Mahasiswa
Konteks Kajian: Masyarakat Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, serta ilustrasi masyarakat Mandar di Sulawesi Barat.

Oleh Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd

A. Pengantar: Mengapa Kita Menggunakan Bahasa yang Berbeda dalam Situasi Berbeda?

Pernahkah Anda berbicara dengan teman menggunakan bahasa yang santai, kemudian mengubah cara berbicara ketika bertemu dosen? Pernahkah Anda menggunakan bahasa daerah ketika berada di rumah, tetapi memilih bahasa Indonesia ketika mengikuti rapat resmi?

Perhatikan ilustrasi berikut.

Ilustrasi 1: Mahasiswa di kampus

Pagi hari, seorang mahasiswa berbicara dengan temannya:

“Eh, nanti kita makan sama-sama, ya!”

Ketika mengikuti presentasi di kelas, ia mengatakan:

“Berdasarkan hasil pengamatan kami, terdapat perbedaan penggunaan bahasa berdasarkan situasi sosial.”

Pada sore hari, ketika pulang ke rumah, ia berbicara dengan anggota keluarga menggunakan bahasa Mandar yang biasa digunakan di lingkungannya.

Mengapa mahasiswa tersebut tidak menggunakan cara berbicara yang sama dalam semua situasi?

Jawabannya berkaitan dengan hubungan antara bahasa dan kehidupan sosial. Dalam masyarakat, bahasa atau ragam bahasa tertentu dapat memperoleh fungsi yang berbeda. Ada ragam yang lebih sering digunakan dalam pendidikan, pidato, dokumen resmi, dan kegiatan keagamaan. Ada pula ragam yang lebih lazim digunakan dalam percakapan keluarga, pergaulan, dan interaksi sehari-hari.

Pembagian fungsi seperti ini membawa kita pada konsep diglosia.

Namun, kita perlu memahami bahwa tidak setiap perubahan gaya berbicara atau pergantian bahasa otomatis disebut diglosia. Untuk mengenali diglosia, kita harus melihat apakah terdapat pembagian fungsi sosial yang relatif teratur antara ragam atau bahasa yang digunakan masyarakat.

Melalui bab ini, kita akan mempelajari pengertian diglosia, konsep High (H) dan Low (L), ciri-cirinya, contoh penerapannya di Indonesia, serta hubungannya dengan penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mampu:

1. Menjelaskan pengertian diglosia dalam kajian sosiolinguistik.

2. Menguraikan konsep High (H) dan Low (L).

3. Mengidentifikasi ciri-ciri situasi diglosia.

4. Membedakan diglosia, bilingualisme, dan alih kode.

5. Menganalisis pembagian fungsi bahasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

6. Mengkaji penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Mandar berdasarkan konteks sosial.

7. Menjelaskan manfaat dan tantangan pembagian fungsi bahasa dalam masyarakat.

8. Melakukan pengamatan sederhana terhadap penggunaan ragam bahasa di lingkungan sekitar.

C. Pengertian Diglosia

1. Apa yang dimaksud dengan diglosia?

Istilah diglosia berasal dari kata yang berkaitan dengan keadaan penggunaan dua ragam bahasa. Dalam sosiolinguistik, konsep ini dikenal melalui pemikiran Charles A. Ferguson yang membahas pembagian fungsi sosial antara dua ragam bahasa dalam suatu masyarakat.

Secara umum, diglosia adalah situasi kebahasaan ketika dua ragam bahasa atau variasi bahasa memiliki fungsi sosial yang berbeda dan digunakan secara relatif teratur dalam komunitas tutur.

Dalam rumusan klasik Ferguson (1959), dua ragam tersebut disebut:

· High (H): ragam tinggi, yang digunakan dalam fungsi formal atau situasi tertentu yang dianggap resmi.

· Low (L): ragam rendah, yang digunakan dalam percakapan sehari-hari atau situasi informal.

Kata tinggi dan rendah dalam istilah tersebut tidak berarti bahwa satu ragam lebih baik, lebih benar, atau lebih cerdas daripada ragam lainnya. Istilah tersebut menunjukkan perbedaan fungsi dan kedudukan sosial ragam bahasa dalam masyarakat.

Ragam H biasanya memiliki prestise lebih tinggi dalam lembaga pendidikan, pemerintahan, atau kegiatan resmi. Ragam L justru dapat menjadi ragam yang paling akrab dan paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Ilustrasi sederhana tentang diglosia

Bayangkan sebuah masyarakat yang menggunakan dua ragam bahasa.

Dalam upacara resmi, pembawa acara menggunakan ragam bahasa yang baku dan terstruktur. Ketika acara selesai dan para peserta berbincang santai, mereka menggunakan ragam sehari-hari yang lebih akrab.

Pembagian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Situasi komunikasi

Ragam yang digunakan

Fungsi sosial

Pidato resmi

Ragam formal

Menyampaikan pesan kepada khalayak secara resmi

Surat keputusan

Ragam formal dan baku

Menyampaikan informasi administratif

Percakapan keluarga

Ragam sehari-hari

Menjalin kedekatan dan berbagi pengalaman

Obrolan dengan teman dekat

Ragam santai

Membangun keakraban

Ceramah atau kegiatan keagamaan tertentu

Ragam sesuai tradisi dan situasi

Menyampaikan ajaran atau pesan keagamaan

Tabel tersebut menggambarkan kemungkinan pembagian fungsi bahasa. Namun, keberadaan ragam formal dan informal saja belum cukup untuk memastikan bahwa suatu masyarakat merupakan masyarakat diglosik dalam pengertian klasik. Kita masih perlu mengamati apakah pembagian fungsi itu bersifat relatif stabil dan diakui oleh masyarakat.

D. Konsep High (H) dan Low (L)

1. High (H): Ragam tinggi

Ragam H merupakan ragam yang dalam masyarakat diglosik klasik digunakan untuk fungsi tertentu yang dianggap resmi, prestisius, atau memerlukan bentuk bahasa yang lebih terstandar.

Ragam ini biasanya ditemukan dalam:

· pendidikan formal;

· pidato dan upacara resmi;

· karya tulis formal;

· dokumen pemerintahan;

· kegiatan keagamaan tertentu;

· komunikasi institusional.

Ilustrasi 2: Presentasi akademik

Seorang mahasiswa mempresentasikan hasil penelitiannya di depan dosen dan teman sekelas.

Ia mengatakan:

“Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi penggunaan bahasa berdasarkan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.”

Mahasiswa tersebut memilih struktur kalimat yang lengkap dan istilah akademik karena sedang berada dalam situasi formal.

Dalam ilustrasi ini, tuturan tersebut mencerminkan ciri ragam formal. Apabila suatu komunitas secara konsisten membedakan ragam formal seperti ini dari ragam sehari-hari dengan pembagian fungsi sosial yang mapan, situasinya dapat menjadi bagian dari pola diglosik dalam pengertian yang lebih luas.

Perlu ditekankan bahwa ragam formal bahasa Indonesia tidak otomatis merupakan ragam H dalam setiap kasus. Penentuan H dan L harus didasarkan pada pola penggunaan dalam masyarakat yang diteliti.

2. Low (L): Ragam rendah

Ragam L merupakan ragam yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari dan situasi informal dalam masyarakat diglosik klasik.

Ragam ini biasanya digunakan ketika:

· berbicara dengan keluarga;

· bercakap-cakap dengan teman;

· berbincang dengan tetangga;

· berinteraksi di pasar;

· berbagi cerita dalam lingkungan yang akrab.

Ilustrasi 3: Percakapan dengan teman

Setelah menyelesaikan presentasi, seorang mahasiswa berbicara dengan temannya:

“Tadi presentasinya lumayan lancar, ya. Tinggal revisi sedikit.”

Tuturan tersebut lebih santai daripada tuturan presentasinya. Penutur menggunakan pilihan kata yang akrab dan struktur yang lazim dalam percakapan.

Ragam sehari-hari bukan berarti ragam yang salah. Ragam ini memiliki aturan, pola, dan fungsi komunikatifnya sendiri. Ragam sehari-hari dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun kedekatan sosial.

3. Perbandingan H dan L

Aspek

High (H)

Low (L)

Fungsi umum

Formal atau institusional

Informal atau sehari-hari

Contoh situasi

Pidato, tulisan resmi, pembelajaran formal

Percakapan keluarga, obrolan santai

Pembelajaran

Sering diperoleh melalui pendidikan formal atau pelatihan

Sering diperoleh melalui interaksi sehari-hari

Prestise sosial

Umumnya lebih tinggi dalam ranah resmi

Dapat dianggap kurang bergengsi dalam ranah resmi, tetapi akrab dalam kehidupan sehari-hari

Bentuk bahasa

Cenderung mengikuti norma yang distandardisasi

Dapat lebih bervariasi sesuai komunitas dan situasi

Fungsi identitas

Menandai konteks resmi atau institusional

Dapat menandai keakraban dan keanggotaan komunitas

Karakteristik dalam tabel tersebut merupakan kecenderungan umum, bukan aturan mutlak untuk semua masyarakat.

Hal penting: ragam H dan L tidak menunjukkan kualitas intelektual penuturnya. Keduanya merupakan sumber daya kebahasaan yang memiliki fungsi sosial berbeda.

E. Ciri-Ciri Diglosia

Dalam konsep klasik Ferguson, diglosia memiliki sejumlah ciri yang membantu membedakannya dari penggunaan dua bahasa secara biasa.

1. Pembagian fungsi yang jelas

Ragam H dan L cenderung digunakan dalam ranah yang berbeda.

Contoh ilustrasi:

Dalam suatu komunitas, ragam H digunakan untuk membaca teks resmi atau menyampaikan pidato, sedangkan ragam L digunakan dalam percakapan spontan di rumah.

Jika masyarakat secara konsisten mengenali pembagian fungsi tersebut, hal itu menjadi salah satu petunjuk adanya diglosia.

2. Perbedaan prestise

Ragam H sering memperoleh pengakuan lebih tinggi dalam lembaga resmi, pendidikan, atau kehidupan keagamaan. Ragam L mungkin dianggap kurang sesuai untuk situasi formal, meskipun tetap digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh ilustrasi:

Seorang mahasiswa diminta menulis laporan akademik menggunakan ragam baku. Ia tidak menggunakan bentuk percakapan yang biasa dipakai dalam obrolan bersama teman.

Aturan tersebut menunjukkan bahwa institusi pendidikan memberikan fungsi khusus kepada ragam formal.

Akan tetapi, prestise merupakan penilaian sosial, bukan bukti bahwa satu ragam secara linguistik lebih sempurna daripada ragam lainnya.

3. Perbedaan bentuk bahasa

Dalam diglosia klasik, ragam H dan L dapat berbeda dalam kosakata, tata bahasa, pengucapan, dan bentuk ungkapan.

Perbedaan tersebut dapat cukup besar sehingga penutur perlu mempelajari ragam H secara khusus untuk menggunakannya dalam fungsi formal.

Ilustrasi:

Seorang anak dapat berbicara lancar menggunakan ragam sehari-hari di rumah. Namun, ia masih perlu mempelajari kosakata dan struktur tertentu ketika mulai menulis laporan ilmiah di sekolah.

Contoh ini menggambarkan perbedaan antara bahasa yang dikuasai melalui interaksi sehari-hari dan ragam yang dipelajari untuk tujuan formal. Namun, perbedaan tingkat formalitas dalam satu bahasa saja belum otomatis membuktikan adanya diglosia klasik.

4. Perolehan bahasa yang berbeda

Ragam L umumnya diperoleh secara alami melalui interaksi sejak masa kanak-kanak. Ragam H dapat dipelajari melalui pendidikan, bacaan, atau kegiatan resmi.

Contoh ilustrasi:

Seorang anak terbiasa menggunakan ragam percakapan dalam keluarganya. Ketika memasuki sekolah, ia belajar menyusun kalimat baku, menulis laporan, dan menggunakan istilah akademik.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan berperan dalam penguasaan ragam bahasa.

5. Norma penggunaan yang relatif stabil

Masyarakat diglosik biasanya memiliki harapan sosial mengenai ragam yang sesuai untuk suatu situasi.

Contoh ilustrasi:

Dalam sebuah upacara resmi, peserta mengharapkan pembawa acara menggunakan bahasa yang sesuai dengan tata acara. Ketika upacara selesai, percakapan berubah menjadi lebih santai.

Harapan tersebut membantu menjelaskan mengapa pemilihan ragam bahasa tidak dilakukan secara sembarangan.

F. Diglosia dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Indonesia memiliki keragaman bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan berbagai bahasa lain yang digunakan oleh masyarakat. Keragaman tersebut membuat Indonesia menjadi konteks yang menarik untuk mengkaji hubungan antara bahasa dan fungsi sosial.

Namun, kita perlu membedakan dua hal:

1. Masyarakat bilingual atau multilingual, yaitu masyarakat yang menggunakan dua bahasa atau lebih.

2. Masyarakat diglosik, yaitu masyarakat yang memperlihatkan pembagian fungsi sosial yang relatif teratur antara ragam atau bahasa tertentu.

Keduanya dapat saling berhubungan, tetapi tidak selalu sama.

1. Ragam formal dan percakapan sehari-hari dalam bahasa Indonesia

Perhatikan dua tuturan berikut.

Tuturan A — situasi formal

“Mohon seluruh mahasiswa mengumpulkan tugas paling lambat pada hari Jumat melalui platform pembelajaran daring.”

Tuturan B — situasi informal

“Tugasnya dikumpul paling lambat Jumat, ya. Upload lewat kelas online.”

Kedua tuturan menyampaikan informasi yang hampir sama, tetapi berbeda dalam gaya dan pilihan katanya.

Tuturan A lebih formal dan cocok untuk pengumuman institusional. Tuturan B lebih santai dan lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Fenomena tersebut menunjukkan variasi bahasa berdasarkan situasi. Dalam pengertian luas, pembagian fungsi seperti ini dapat dibahas sebagai gejala yang menyerupai diglosia. Akan tetapi, dalam pengertian klasik Ferguson, perbedaan register formal dan informal saja tidak cukup untuk menetapkan adanya diglosia.

2. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia dan bahasa daerah dapat digunakan dalam ranah sosial yang berbeda.

Ilustrasi 4: Kehidupan seorang mahasiswa

Siti tumbuh dalam keluarga yang menggunakan bahasa daerah. Di rumah, ia berbicara dengan orang tua menggunakan bahasa yang lazim dipakai keluarganya. Di kampus, ia mengikuti perkuliahan menggunakan bahasa Indonesia. Ketika berdiskusi dengan teman yang berasal dari daerah berbeda, ia juga memilih bahasa Indonesia.

Dalam kasus ini, bahasa daerah berperan dalam komunikasi keluarga, sedangkan bahasa Indonesia berperan sebagai bahasa bersama dalam pendidikan dan komunikasi lintas daerah.

Situasi tersebut dapat menunjukkan bilingualisme dan pembagian fungsi bahasa. Namun, untuk menyebutnya sebagai diglosia, peneliti perlu memeriksa lebih lanjut apakah kedua bahasa itu memiliki pembagian fungsi yang relatif stabil dalam komunitas tersebut.

Misalnya, apakah bahasa daerah secara konsisten digunakan dalam ranah keluarga dan adat, sementara bahasa Indonesia digunakan dalam ranah formal? Apakah pola tersebut berlaku bagi sebagian besar anggota komunitas? Bagaimana sikap masyarakat terhadap kedua bahasa tersebut?

Jawaban terhadap pertanyaan itu akan membantu menentukan apakah fenomena yang ditemukan lebih tepat disebut bilingualisme, diglosia, atau kombinasi keduanya.

G. Ilustrasi Diglosia dalam Konteks Masyarakat Mandar

1. Bahasa Mandar dan bahasa Indonesia

Masyarakat Mandar di Sulawesi Barat hidup dalam lingkungan kebahasaan yang beragam. Bahasa Mandar dapat digunakan dalam komunikasi keluarga, pergaulan, dan kegiatan kebudayaan, sedangkan bahasa Indonesia digunakan secara luas dalam pendidikan, administrasi, dan komunikasi antardaerah.

Pola tersebut merupakan konteks yang relevan untuk meneliti pembagian fungsi bahasa.

Namun, tidak semua orang Mandar menggunakan bahasa Mandar dengan tingkat kemampuan atau frekuensi yang sama. Pola penggunaan bahasa juga dapat berbeda menurut keluarga, generasi, wilayah, dan pengalaman pendidikan.

Oleh sebab itu, analisis diglosia perlu didasarkan pada data penggunaan bahasa yang nyata.

2. Ilustrasi 5: Di rumah dan di ruang kuliah

Bayangkan seorang mahasiswa bernama Ilham.

Ketika berada di rumah, Ilham menggunakan bahasa Mandar untuk berbincang dengan anggota keluarga yang memahami bahasa tersebut. Ia merasa nyaman menggunakan ungkapan yang akrab dan sesuai dengan kebiasaan keluarganya.

Ketika berada di ruang kuliah, Ilham menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan pendapat dan mengerjakan tugas akademik.

Ketika dosen meminta mahasiswa menjelaskan hasil pengamatan, Ilham mengatakan:

“Berdasarkan pengamatan saya, pilihan bahasa dapat berubah sesuai dengan lawan bicara dan tujuan komunikasi.”

Setelah kelas selesai, ia berbicara santai dengan teman dekatnya.

Apa yang dapat kita simpulkan?

Pertama, Ilham menggunakan bahasa berdasarkan kebutuhan komunikasi. Kedua, bahasa Indonesia mendukung partisipasinya dalam kegiatan akademik. Ketiga, bahasa Mandar tetap dapat berfungsi dalam hubungan keluarga.

Pola tersebut dapat menjadi bahan penelitian mengenai bilingualisme dan pembagian fungsi bahasa. Untuk menyimpulkan bahwa komunitas Ilham bersifat diglosik, kita perlu memastikan apakah pembagian fungsi tersebut merupakan norma sosial yang relatif stabil, bukan sekadar kebiasaan individual.

3. Ilustrasi 6: Bahasa dalam kegiatan adat

Bayangkan sebuah kegiatan adat di suatu komunitas Mandar.

Dalam kegiatan tersebut, seorang tokoh masyarakat menyampaikan ungkapan yang dikenal oleh anggota komunitas. Bahasa yang digunakan dipilih karena berkaitan dengan tradisi, makna budaya, dan konteks kegiatan. Pada kesempatan yang sama, panitia dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan pengumuman kepada peserta yang memiliki latar bahasa beragam.

Situasi ini memperlihatkan bahwa bahasa dapat memiliki fungsi yang berbeda dalam satu kegiatan.

Bahasa daerah dapat membawa nilai simbolis dan budaya, sedangkan bahasa Indonesia dapat membantu penyampaian informasi kepada khalayak yang lebih luas.

Apabila suatu komunitas secara konsisten membagi penggunaan bahasa berdasarkan fungsi tersebut, pola itu dapat menjadi bahan kajian diglosia dalam pengertian yang lebih luas.

Namun, penggunaan bahasa daerah dalam upacara adat tidak dengan sendirinya menjadikan bahasa daerah sebagai L dan bahasa Indonesia sebagai H. Penentuan H dan L memerlukan analisis mengenai fungsi, prestise, norma penggunaan, dan hubungan sosial antara ragam atau bahasa yang dibandingkan.

4. Ilustrasi 7: Bahasa dalam pelayanan masyarakat

Seorang petugas memberikan penjelasan mengenai prosedur administrasi menggunakan bahasa Indonesia. Ketika mengetahui bahwa seorang warga lebih nyaman memahami informasi dalam bahasa Mandar, petugas itu menyesuaikan penjelasannya dengan kemampuan bahasa yang dimiliki kedua pihak.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pemilihan bahasa dapat dipengaruhi oleh kebutuhan pemahaman dan akses terhadap informasi.

Penggunaan bahasa Indonesia dapat mendukung konsistensi komunikasi administratif, sedangkan penggunaan bahasa Mandar dapat membantu menjelaskan informasi kepada warga tertentu.

Dari perspektif sosiolinguistik, kita dapat meneliti bagaimana bahasa digunakan dalam pelayanan publik, bagaimana penutur menyesuaikan pilihan bahasa, dan apakah masyarakat menganggap bahasa tertentu lebih sesuai untuk ranah resmi atau lokal.

Contoh ini tidak membuktikan diglosia secara otomatis, tetapi memberikan bahan yang baik untuk mengkaji pembagian fungsi bahasa dalam masyarakat.

H. Perbedaan Diglosia, Bilingualisme, dan Alih Kode

Ketiga konsep ini sering dianggap sama karena sama-sama berkaitan dengan penggunaan lebih dari satu bentuk bahasa. Padahal, fokus kajiannya berbeda.

Aspek

Diglosia

Bilingualisme

Alih kode

Fokus utama

Pembagian fungsi sosial bahasa atau ragam

Kemampuan atau praktik menggunakan dua bahasa

Peralihan bahasa atau kode dalam interaksi

Unit analisis

Pola penggunaan dalam komunitas

Individu atau masyarakat

Tuturan atau percakapan

Ciri penting

Fungsi yang relatif stabil dan berbeda

Penggunaan dua bahasa

Perubahan bahasa dalam interaksi

Contoh

Ragam tertentu digunakan secara konsisten untuk ranah formal, ragam lain untuk ranah sehari-hari

Seseorang menggunakan bahasa Mandar dan bahasa Indonesia

Penutur beralih dari bahasa Mandar ke bahasa Indonesia ketika lawan bicara berubah

Ilustrasi 8: Tiga konsep dalam satu peristiwa

Seorang mahasiswa memahami bahasa Mandar dan bahasa Indonesia. Ketika berada di rumah, ia menggunakan bahasa Mandar. Di kelas, ia menggunakan bahasa Indonesia. Saat berbicara dengan teman sekampung di kampus, ia mulai menggunakan bahasa Mandar, kemudian beralih ke bahasa Indonesia ketika teman lain bergabung.

Peristiwa ini dapat dianalisis melalui tiga sudut pandang:

· Bilingualisme: mahasiswa tersebut menggunakan dua bahasa.

· Alih kode: mahasiswa tersebut beralih bahasa ketika peserta percakapan berubah.

· Diglosia: dapat dikaji apabila terdapat pembagian fungsi bahasa yang relatif stabil dalam komunitasnya, bukan hanya karena mahasiswa itu mengganti bahasa.

Dengan membedakan ketiga konsep ini, mahasiswa dapat melakukan analisis sosiolinguistik dengan lebih tepat.

I. Dampak dan Tantangan Diglosia

Diglosia dapat memberikan manfaat dalam pengaturan komunikasi sosial, tetapi juga dapat menimbulkan tantangan apabila pembagian fungsi bahasa disertai ketimpangan prestise atau akses.

1. Manfaat diglosia

a. Membantu menyesuaikan bahasa dengan situasi

Ragam formal dapat digunakan untuk dokumen resmi dan kegiatan akademik, sedangkan ragam sehari-hari dapat digunakan untuk membangun keakraban.

Contoh: mahasiswa menulis laporan menggunakan bahasa Indonesia baku, tetapi berbicara santai dengan teman setelah perkuliahan.

b. Mendukung keberlanjutan tradisi bahasa

Dalam komunitas tertentu, ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan budaya atau keagamaan dapat membantu mempertahankan ungkapan dan praktik kebahasaan yang diwariskan antargenerasi.

Contoh: anggota komunitas tetap menggunakan ungkapan tradisional dalam acara adat, sekaligus menggunakan bahasa Indonesia untuk pengumuman umum.

c. Memperluas kemampuan berkomunikasi

Pengalaman menggunakan ragam yang berbeda dapat membantu seseorang memahami tuntutan komunikasi dalam lingkungan yang berbeda.

Contoh: seorang mahasiswa belajar menggunakan bahasa formal ketika menulis surat permohonan, tetapi menggunakan bahasa santai ketika mengirim pesan kepada teman.

d. Menunjukkan kekayaan kebahasaan masyarakat

Perbedaan ragam bahasa dapat memperlihatkan bahwa satu komunitas memiliki beragam sumber daya kebahasaan untuk tujuan sosial yang berbeda.

2. Tantangan diglosia

a. Anggapan bahwa ragam tertentu lebih baik

Jika ragam H dianggap lebih bergengsi, penutur ragam L dapat merasa bahasa sehari-harinya tidak layak digunakan dalam ruang publik.

Contoh: seorang mahasiswa merasa malu menggunakan bahasa daerah karena khawatir dinilai kurang terdidik.

Padahal, ragam bahasa memiliki fungsi yang berbeda dan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan prestise sosialnya.

b. Kesenjangan akses terhadap bahasa formal

Orang yang memiliki kesempatan pendidikan terbatas mungkin kurang akrab dengan ragam bahasa yang digunakan dalam dokumen resmi atau lingkungan akademik.

Contoh: seorang warga kesulitan memahami surat administratif karena menggunakan istilah formal yang tidak familiar baginya.

Solusinya bukan menyalahkan warga, melainkan memperbaiki kejelasan informasi dan menyediakan penjelasan yang mudah dipahami.

c. Berkurangnya penggunaan bahasa daerah

Jika bahasa daerah hanya dianggap sesuai untuk situasi tertentu dan jarang digunakan dalam pendidikan, media, atau kegiatan generasi muda, kesempatan penggunaannya dapat menyempit.

Contoh: anak-anak memahami bahasa daerah, tetapi hampir selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari.

Kondisi ini dapat menjadi perhatian apabila masyarakat ingin mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian dari kehidupan antargenerasi.

d. Pembatasan penggunaan bahasa dalam situasi tertentu

Aturan sosial yang terlalu kaku dapat membuat penutur merasa tidak bebas menggunakan bahasa yang paling mudah dipahami oleh dirinya atau lawan bicaranya.

Contoh: seorang petugas tetap menggunakan istilah resmi yang sulit dipahami warga, meskipun penjelasan dengan bahasa yang lebih akrab akan membantu komunikasi.

Dalam situasi pelayanan publik, kejelasan pesan dan aksesibilitas perlu diperhatikan.

3. Bagaimana menyikapi tantangan tersebut?

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

1. Mengajarkan bahasa baku tanpa merendahkan ragam sehari-hari.

2. Mengembangkan bahan bacaan dan konten digital dalam bahasa daerah.

3. Menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami dalam pelayanan publik.

4. Mendorong mahasiswa meneliti bahasa daerah secara ilmiah.

5. Menumbuhkan sikap positif terhadap keragaman bahasa.

6. Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menggunakan bahasa daerah dalam konteks yang relevan bagi mereka.

Dengan demikian, pembagian fungsi bahasa dapat dipahami secara kritis tanpa menganggap salah satu ragam lebih unggul secara linguistik.

J. Studi Kasus: Apakah Fenomena Ini Termasuk Diglosia?

Bacalah ilustrasi berikut.

Di sebuah kampus di Sulawesi Barat, dosen menggunakan bahasa Indonesia formal ketika menyampaikan materi. Mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia untuk berdiskusi dan mengerjakan tugas. Di luar kelas, sebagian mahasiswa berbicara dengan teman dekat menggunakan bahasa Mandar.

Dalam sebuah acara kebudayaan, panitia menggunakan bahasa Mandar untuk bagian tertentu dari acara dan bahasa Indonesia untuk menyampaikan pengumuman kepada seluruh peserta.

Beberapa mahasiswa mengatakan bahwa bahasa Indonesia lebih cocok untuk kegiatan akademik, sedangkan bahasa Mandar lebih akrab untuk komunikasi keluarga. Namun, ada pula mahasiswa yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia di rumah karena kebiasaan keluarganya.

Pertanyaan analisis

1. Bahasa atau ragam apa saja yang digunakan dalam ilustrasi tersebut?

2. Situasi mana yang menunjukkan penggunaan bahasa formal dan informal?

3. Apakah penggunaan bahasa Mandar dan bahasa Indonesia menunjukkan bilingualisme? Jelaskan.

4. Apakah setiap pergantian bahasa dalam ilustrasi tersebut dapat disebut alih kode?

5. Data apa yang perlu dikumpulkan untuk memastikan apakah komunitas tersebut memperlihatkan pola diglosia?

6. Bagaimana pandangan masyarakat mengenai prestise bahasa dapat memengaruhi pilihan bahasa?

7. Apa yang dapat dilakukan kampus untuk mendukung penguasaan bahasa Indonesia dan pemertahanan bahasa Mandar?

Panduan analisis

Gunakan lima langkah berikut:

Langkah 1 — Identifikasi bentuk bahasa. Catat bahasa atau ragam yang digunakan.

Langkah 2 — Identifikasi ranah sosial. Perhatikan apakah bahasa digunakan dalam keluarga, kelas, kegiatan adat, atau pelayanan publik.

Langkah 3 — Periksa pembagian fungsi. Tanyakan apakah penggunaan bahasa mengikuti pola yang relatif stabil dalam komunitas.

Langkah 4 — Periksa sikap dan prestise. Cari tahu apakah masyarakat memiliki anggapan tertentu mengenai ragam yang sesuai untuk situasi formal atau informal.

Langkah 5 — Susun kesimpulan berdasarkan bukti. Bedakan fakta yang ditemukan dari dugaan mengenai penggunaan bahasa.

K. Aktivitas Pembelajaran: Peta Diglosia di Lingkungan Saya

Tugas individu: Mengamati fungsi bahasa

Tujuan: mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menganalisis penggunaan bahasa berdasarkan situasi sosial.

Petunjuk:

1. Pilih satu lingkungan yang dapat Anda amati, misalnya keluarga, kampus, pasar, organisasi, atau kegiatan masyarakat.

2. Amati penggunaan bahasa dalam sekurang-kurangnya tiga situasi.

3. Catat bahasa atau ragam yang digunakan dan fungsi komunikasinya.

4. Cari tahu apakah terdapat pembagian fungsi yang relatif konsisten.

5. Catat sikap masyarakat terhadap bahasa atau ragam yang digunakan.

6. Tentukan apakah temuan lebih tepat disebut variasi formal-informal, bilingualisme, alih kode, atau menunjukkan pola diglosia.

7. Tulis laporan analisis sepanjang 500–800 kata.

Contoh tabel pengamatan

Situasi

Bahasa atau ragam

Fungsi

Pertanyaan analisis

Perkuliahan

Bahasa Indonesia formal

Penyampaian materi akademik

Apakah ragam formal diwajibkan atau hanya menjadi kebiasaan?

Percakapan keluarga

Bahasa Mandar atau bahasa lain

Komunikasi sehari-hari

Apakah bahasa yang sama digunakan oleh seluruh anggota keluarga?

Kegiatan adat

Bahasa sesuai tradisi dan konteks

Penyampaian pesan budaya

Apakah terdapat ungkapan khusus yang digunakan dalam kegiatan tersebut?

Pelayanan administrasi

Bahasa Indonesia atau bahasa lain sesuai kebutuhan

Penyampaian informasi

Apakah pilihan bahasa membantu warga memahami informasi?

Tabel ini merupakan panduan pengamatan, bukan hasil penelitian yang sudah terbukti.

Format laporan

Laporan terdiri atas:

1. Judul.

2. Tujuan pengamatan.

3. Deskripsi lokasi dan situasi.

4. Hasil pengamatan.

5. Analisis konsep sosiolinguistik.

6. Kesimpulan.

7. Saran.

Etika penelitian

· Mintalah persetujuan sebelum merekam percakapan.

· Jaga identitas narasumber.

· Hindari menilai ragam bahasa sebagai buruk atau tidak berpendidikan.

· Jangan menyimpulkan bahwa suatu masyarakat diglosik hanya berdasarkan satu percakapan.

· Pisahkan data yang diamati dari interpretasi peneliti.

L. Rangkuman Materi

Setelah mempelajari Bab 7, mahasiswa perlu mengingat pokok-pokok berikut.

1. Diglosia adalah situasi ketika dua ragam atau bahasa memiliki pembagian fungsi sosial yang relatif teratur dalam suatu komunitas.

2. Konsep klasik diglosia dikembangkan oleh Charles A. Ferguson (1959).

3. High (H) merujuk pada ragam yang digunakan dalam fungsi tertentu yang dianggap formal atau prestisius.

4. Low (L) merujuk pada ragam yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari.

5. Istilah tinggi dan rendah menunjukkan kedudukan sosial dan fungsi, bukan kualitas linguistik atau kecerdasan penuturnya.

6. Diglosia klasik ditandai oleh pembagian fungsi, perbedaan prestise, perbedaan bentuk bahasa, pola pemerolehan, dan norma penggunaan yang relatif stabil.

7. Bilingualisme berkaitan dengan penggunaan dua bahasa, sedangkan alih kode merupakan peralihan bahasa dalam interaksi.

8. Masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah belum tentu secara otomatis merupakan masyarakat diglosik; diperlukan analisis mengenai fungsi dan norma penggunaan bahasa.

9. Dalam konteks Mandar, bahasa Mandar dan bahasa Indonesia dapat memiliki fungsi yang berbeda. Pola tersebut merupakan bahan kajian yang perlu diteliti berdasarkan data nyata.

10. Pendidikan bahasa perlu menghargai ragam sehari-hari, mengembangkan kemampuan bahasa formal, dan mendukung pemertahanan bahasa daerah.

Inti pembelajaran: untuk memahami diglosia, kita tidak cukup hanya menghitung jumlah bahasa yang digunakan masyarakat. Kita juga perlu memahami siapa yang menggunakan bahasa tersebut, dalam situasi apa, untuk tujuan apa, dan bagaimana masyarakat memberikan makna sosial kepada penggunaannya.

M. Evaluasi Pembelajaran

Bagian 1 — Pilihan Ganda

1. Diglosia dalam pengertian sosiolinguistik berkaitan dengan ...

A. Penggunaan satu bahasa oleh semua anggota masyarakat.
B. Pembagian fungsi sosial yang relatif teratur antara ragam atau bahasa.
C. Kesalahan dalam pengucapan kata.
D. Ketidakmampuan mempelajari bahasa kedua.

2. Dalam konsep klasik diglosia, H merupakan singkatan dari ...

A. Historical.
B. Hybrid.
C. High.
D. Human.

3. Fungsi utama konsep L dalam diglosia klasik adalah ...

A. Menunjukkan bahwa suatu bahasa salah.
B. Menunjukkan ragam yang lazim digunakan dalam situasi sehari-hari.
C. Menunjukkan bahasa yang hanya digunakan oleh anak-anak.
D. Menunjukkan bahwa penutur tidak menguasai bahasa formal.

4. Pernyataan yang tepat mengenai istilah H dan L adalah ...

A. H selalu lebih baik daripada L.
B. L tidak memiliki aturan kebahasaan.
C. H dan L menunjukkan perbedaan fungsi sosial, bukan kualitas intelektual penuturnya.
D. H dan L hanya digunakan di Indonesia.

5. Seorang mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia dalam perkuliahan dan bahasa Mandar bersama keluarganya. Fenomena tersebut secara langsung menunjukkan ...

A. Bilingualisme, jika ia menggunakan kedua bahasa tersebut.
B. Diglosia klasik dalam semua keadaan.
C. Monolingualisme.
D. Kesalahan berbahasa.

6. Mengapa penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Mandar tidak otomatis membuktikan adanya diglosia?

A. Karena bahasa daerah tidak memiliki fungsi sosial.
B. Karena diglosia memerlukan bukti tentang pembagian fungsi yang relatif stabil.
C. Karena diglosia hanya membahas bahasa asing.
D. Karena semua orang harus menggunakan bahasa yang sama.

7. Salah satu tantangan diglosia adalah ...

A. Semua orang menjadi mampu menggunakan semua bahasa.
B. Hilangnya kebutuhan komunikasi.
C. Munculnya anggapan bahwa ragam tertentu lebih bergengsi daripada ragam lainnya.
D. Tidak adanya variasi bahasa dalam masyarakat.

8. Data yang paling berguna untuk meneliti diglosia adalah ...

A. Satu kalimat tanpa konteks.
B. Pendapat peneliti tanpa pengamatan.
C. Pengamatan penggunaan bahasa dalam berbagai situasi, disertai informasi tentang fungsi dan norma sosial.
D. Daftar nama bahasa tanpa informasi penggunaannya.

Bagian 2 — Esai

1. Jelaskan pengertian diglosia dan uraikan konsep High (H) dan Low (L).

2. Mengapa istilah H dan L tidak boleh dipahami sebagai ukuran kecerdasan atau kualitas linguistik?

3. Jelaskan perbedaan diglosia, bilingualisme, dan alih kode dengan contoh.

4. Analisis penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Mandar dalam lingkungan keluarga, pendidikan, atau kegiatan masyarakat.

5. Apa saja data yang harus dikumpulkan sebelum menyimpulkan bahwa suatu komunitas memiliki pola diglosia?

6. Menurut Anda, bagaimana masyarakat dapat mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa formal sekaligus mempertahankan bahasa daerah?

Bagian 3 — Refleksi

Lengkapi pernyataan berikut berdasarkan pengalaman Anda.

· Ragam bahasa yang paling sering saya gunakan dalam situasi formal adalah ...

· Bahasa atau ragam yang paling sering saya gunakan bersama keluarga adalah ...

· Saya mengubah cara berbicara ketika ...

· Menurut saya, masyarakat menganggap ragam tertentu lebih sesuai untuk situasi resmi karena ...

· Cara yang dapat saya lakukan untuk mendukung penghargaan terhadap bahasa daerah adalah ...

N. Kunci Jawaban Pilihan Ganda

Bagian ini dapat digunakan dosen sebagai pedoman evaluasi.

Nomor

Jawaban

Alasan

1

B

Diglosia berkaitan dengan pembagian fungsi sosial ragam atau bahasa.

2

C

H berarti High.

3

B

L merujuk pada ragam yang lazim digunakan dalam fungsi sehari-hari pada diglosia klasik.

4

C

H dan L menunjukkan perbedaan fungsi serta kedudukan sosial.

5

A

Penggunaan dua bahasa dapat menunjukkan bilingualisme, tetapi belum otomatis membuktikan diglosia.

6

B

Diglosia memerlukan bukti tentang pembagian fungsi yang relatif stabil.

7

C

Ketimpangan prestise dapat menimbulkan stigma terhadap ragam tertentu.

8

C

Penelitian diglosia memerlukan data penggunaan bahasa beserta konteks sosialnya.

Pedoman penilaian esai

· Ketepatan konsep: 30%.

· Ketepatan penggunaan contoh: 25%.

· Kedalaman analisis sosiolinguistik: 30%.

· Kejelasan penyajian dan kesimpulan: 15%.

Dosen dapat menyesuaikan bobot penilaian berdasarkan capaian pembelajaran dan kebijakan mata kuliah.

O. Referensi Bacaan

Ferguson, C. A. (1959). Diglossia. Word, 15(2), 325–340.

Fishman, J. A. (1967). Bilingualism with and without diglossia; diglossia with and without bilingualism. Journal of Social Issues, 23(2), 29–38.

Holmes, J., & Wilson, N. (2022). An Introduction to Sociolinguistics (6th ed.). Routledge.

Ketiga referensi tersebut dapat digunakan sebagai titik awal untuk memperdalam pembahasan mengenai diglosia, bilingualisme, pembagian fungsi bahasa, dan hubungan antara praktik bahasa dengan kehidupan sosial.

P. Penutup: Memahami Fungsi Bahasa, Menghargai Keragaman

Bahasa tidak digunakan dalam ruang sosial yang kosong. Setiap masyarakat mengembangkan kebiasaan dan harapan tertentu mengenai bahasa yang dianggap sesuai untuk kegiatan formal, percakapan sehari-hari, pendidikan, tradisi, atau hubungan keluarga.

Konsep diglosia membantu kita memahami pembagian fungsi tersebut. Namun, konsep ini juga mengingatkan kita untuk tidak terburu-buru memberi label H dan L kepada suatu bahasa hanya karena bahasa itu digunakan di tempat yang berbeda.

Dalam konteks masyarakat Mandar, misalnya, penggunaan bahasa Mandar dan bahasa Indonesia dapat menjadi titik awal untuk mengkaji hubungan antara bahasa, identitas, pendidikan, dan kehidupan sosial. Kesimpulan tentang diglosia harus didukung pengamatan mengenai fungsi, norma, prestise, dan pola penggunaan bahasa dalam komunitas yang diteliti.

Pesan untuk mahasiswa Ruang Pemuda:

Bahasa yang digunakan dalam pidato resmi dan bahasa yang digunakan dalam percakapan keluarga mungkin memiliki fungsi berbeda. Perbedaan fungsi itu bukan alasan untuk merendahkan salah satunya. Memahami bahasa berarti memahami manusia, kebudayaan, dan kehidupan sosialnya.

Pertanyaan diskusi penutup

Menurut Anda, apakah penggunaan bahasa Indonesia dalam pendidikan dan bahasa Mandar dalam kehidupan keluarga serta kegiatan budaya di lingkungan Anda memperlihatkan diglosia, bilingualisme, atau keduanya? Jelaskan pendapat Anda berdasarkan contoh dan hasil pengamatan, bukan hanya berdasarkan dugaan.

Selamat belajar dan berdiskusi di Ruang Pemuda!

Inspirasi

Kolaborasi

Pembelajaran

info@ruangpemuda.info

085145459727

© 2024. All rights reserved.