Sejarah dan Hakikat Pembelajaran BIPA
Pelajari tentang hakikat, sejarah, dan landasan pengembangan BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Temukan bagaimana pembelajaran BIPA tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga budaya dan nilai-nilai masyarakat Indonesia.
BIPA
9/24/20269 min read
BAB 1
HAKIKAT, SEJARAH, DAN LANDASAN PENGEMBANGAN BIPA
Oleh Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd
1.1 Pendahuluan dan Capaian Pembelajaran
A. Pendahuluan
Bahasa Indonesia tidak hanya digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia juga dipelajari oleh masyarakat dari berbagai negara. Orang asing mempelajari bahasa Indonesia dengan beragam tujuan, misalnya untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, melakukan penelitian, menjalankan kegiatan diplomatik, berwisata, berbisnis, atau sekadar mengenal bahasa dan budaya Indonesia.
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi salah satu bidang penting dalam pengembangan bahasa Indonesia. BIPA tidak sekadar mengajarkan kosakata, tata bahasa, membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Pembelajaran BIPA juga berkaitan erat dengan pengenalan budaya, kehidupan sosial, kebiasaan, nilai, dan cara berkomunikasi masyarakat Indonesia.
Karena itu, pembelajaran BIPA perlu dipahami sebagai pembelajaran bahasa yang kontekstual, komunikatif, dan berorientasi pada kebutuhan pembelajar. Sejumlah penelitian dalam jurnal BIPA Badan Bahasa menunjukkan bahwa tujuan pembelajar BIPA sangat beragam dan pembelajaran bahasa perlu memperhatikan kebutuhan serta latar belakang pembelajar.
Dalam konteks yang lebih luas, BIPA juga memiliki hubungan dengan upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Dengan demikian, BIPA dapat dipandang sebagai salah satu instrumen penguatan posisi bahasa Indonesia di tingkat internasional.
B. Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajari Bab 1, mahasiswa diharapkan mampu:
1. menjelaskan pengertian dan hakikat BIPA;
2. membedakan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing dengan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asli;
3. menjelaskan fungsi BIPA dalam pendidikan dan komunikasi internasional;
4. memahami hubungan BIPA dengan diplomasi kebahasaan dan budaya;
5. menjelaskan landasan hukum pengembangan bahasa Indonesia dan BIPA;
6. mengenali karakteristik pembelajar BIPA berdasarkan tujuan dan latar belakangnya;
7. menjelaskan pentingnya pemahaman budaya dalam pembelajaran BIPA;
8. menganalisis kebutuhan pembelajar BIPA sebagai dasar pengembangan pembelajaran.
1.2 Hakikat dan Kedudukan BIPA
A. Pengertian BIPA
BIPA merupakan singkatan dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Secara sederhana, BIPA adalah program atau bidang pembelajaran yang ditujukan kepada orang yang bukan penutur asli bahasa Indonesia dan ingin mempelajari bahasa Indonesia.
Pembelajar BIPA dapat berasal dari berbagai negara dengan latar belakang bahasa, budaya, pendidikan, usia, profesi, dan tujuan belajar yang berbeda-beda. Karena itu, BIPA memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asli.
Misalnya, seorang mahasiswa dari Jepang yang datang ke Indonesia untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa membutuhkan kemampuan bahasa Indonesia agar dapat berkomunikasi di kampus dan lingkungan sosial. Sementara itu, seorang tenaga profesional dari Korea Selatan yang bekerja di perusahaan Indonesia mungkin membutuhkan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dalam lingkungan kerja.
Keduanya sama-sama belajar bahasa Indonesia, tetapi kebutuhan komunikasinya berbeda.
Penelitian dalam jurnal BIPA juga menunjukkan bahwa pembelajar asing mempelajari bahasa Indonesia untuk berbagai keperluan, termasuk pendidikan, pekerjaan, penelitian, dan kehidupan di Indonesia.
B. BIPA dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asli
Ada perbedaan mendasar antara pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asli dan BIPA.
Aspek
Penutur Asli
Pembelajar BIPA
Bahasa pertama
Bahasa Indonesia atau bahasa yang telah dikuasai sejak awal
Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua/asing
Lingkungan bahasa
Umumnya sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia
Perlu membangun pengalaman berbahasa Indonesia
Tujuan
Pengembangan kemampuan berbahasa yang telah dimiliki
Memperoleh kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
Budaya
Umumnya telah memiliki pengetahuan budaya lokal tertentu
Perlu diperkenalkan dengan budaya Indonesia
Kesulitan
Lebih banyak pada pengembangan kemampuan akademik/kompleks
Dapat mencakup kosakata, tata bahasa, pelafalan, pragmatik, dan budaya
Materi
Dapat menggunakan materi akademik yang lebih kompleks
Perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan
Dengan demikian, pengajar BIPA tidak cukup hanya memahami bahasa Indonesia. Pengajar juga perlu memahami bahasa pertama, budaya, kebutuhan, dan pengalaman belajar pembelajar.
C. Fungsi BIPA
BIPA memiliki beberapa fungsi penting.
1. Fungsi komunikatif
Fungsi pertama adalah membantu pembelajar menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi.
Pembelajar tidak hanya dituntut mengetahui bahwa suatu kalimat benar secara tata bahasa, tetapi juga mampu menggunakannya dalam situasi nyata.
Contohnya:
"Permisi, di mana letak perpustakaan?"
Kalimat tersebut bukan sekadar contoh struktur bahasa. Pembelajar perlu memahami kapan, kepada siapa, dan dalam situasi apa ungkapan tersebut digunakan.
2. Fungsi akademik
BIPA juga mendukung mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Mereka membutuhkan kemampuan bahasa Indonesia untuk mengikuti perkuliahan, memahami instruksi, membaca sumber belajar, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas.
3. Fungsi profesional
Pembelajar yang bekerja di Indonesia membutuhkan kemampuan berbahasa untuk berinteraksi dengan rekan kerja, pelanggan, mitra bisnis, maupun masyarakat.
4. Fungsi sosial dan budaya
Belajar bahasa pada dasarnya juga berarti belajar budaya. Bahasa memiliki hubungan erat dengan kebiasaan dan nilai masyarakat.
Dalam pembelajaran BIPA, pemahaman budaya penting agar pembelajar tidak hanya mampu menghasilkan kalimat yang benar, tetapi juga dapat berkomunikasi secara tepat dalam konteks sosial Indonesia. Kajian BIPA terbaru juga menekankan pentingnya muatan budaya dan tradisi dalam pembelajaran.
D. BIPA sebagai Diplomasi Kebahasaan
BIPA juga dapat ditempatkan dalam konteks diplomasi kebahasaan.
Ketika seseorang dari negara lain mempelajari bahasa Indonesia, ia tidak hanya mempelajari sistem bahasa. Ia juga berinteraksi dengan kebudayaan, sejarah, masyarakat, dan kehidupan Indonesia.
Misalnya, melalui pembelajaran BIPA, pembelajar dapat mengenal:
makanan Indonesia;
tradisi masyarakat;
sistem pendidikan;
kehidupan keluarga;
kesenian;
adat istiadat;
lingkungan sosial;
keragaman daerah di Indonesia.
Dengan demikian, pembelajaran BIPA dapat menjadi ruang perjumpaan antara bahasa, budaya, dan masyarakat.
Dalam konteks internasionalisasi bahasa Indonesia, perkembangan lembaga dan program BIPA di berbagai negara menunjukkan bahwa BIPA memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat dunia.
1.3 Landasan Hukum dan Kebijakan BIPA di Indonesia
A. UU Nomor 24 Tahun 2009
Salah satu landasan penting dalam pengembangan bahasa Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut ditetapkan dan diundangkan pada 9 Juli 2009 dan berstatus berlaku, dengan beberapa ketentuan yang telah mengalami perubahan akibat perkembangan peraturan perundang-undangan.
UU tersebut menempatkan bahasa Indonesia sebagai bagian penting dari identitas dan kehidupan berbangsa. Dalam konteks pengembangan bahasa, undang-undang tersebut juga memberikan landasan bagi upaya peningkatan fungsi bahasa Indonesia.
Salah satu arah penting yang relevan dengan BIPA adalah peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ketentuan ini menunjukkan bahwa pengembangan bahasa Indonesia tidak hanya berorientasi ke dalam negeri, tetapi juga memiliki dimensi internasional.
B. BIPA dalam konteks internasionalisasi Bahasa Indonesia
Internasionalisasi bahasa tidak berarti sekadar memperbanyak orang asing yang dapat berbicara bahasa Indonesia. Internasionalisasi juga berkaitan dengan:
1. meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia di luar Indonesia;
2. meningkatnya lembaga penyelenggara pembelajaran bahasa Indonesia;
3. meningkatnya bahan ajar dan sumber belajar BIPA;
4. meningkatnya tenaga pengajar BIPA yang profesional;
5. meningkatnya penelitian tentang pembelajaran BIPA;
6. meningkatnya pemahaman masyarakat internasional terhadap bahasa dan budaya Indonesia.
Karena itu, pengembangan BIPA membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, organisasi profesi, dan masyarakat.
C. Peran Badan Bahasa
Dalam ekosistem pengembangan bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memiliki peran penting dalam pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia, termasuk penguatan program BIPA.
Pengembangan BIPA membutuhkan standar, bahan ajar, program pelatihan, penelitian, dan dukungan kelembagaan. Publikasi ilmiah Badan Bahasa menunjukkan bahwa aspek kompetensi, keterampilan berbahasa, sikap, serta konteks budaya perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar BIPA.
Catatan istilah: dalam praktik kelembagaan, mahasiswa perlu membedakan lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan kebahasaan dengan organisasi profesi/komunitas pengajar BIPA. Istilah dan struktur organisasi dapat berkembang, sehingga informasi kelembagaan sebaiknya selalu merujuk pada sumber resmi terbaru.
D. Peran APBIPA/APPBIPA
Dalam perkembangan BIPA terdapat organisasi profesi/komunitas yang menghimpun para pegiat dan pengajar BIPA. Salah satu yang banyak dirujuk dalam literatur BIPA adalah APPBIPA (Asosiasi Pegiat dan Pengajar BIPA).
Organisasi semacam ini memiliki arti penting dalam:
membangun jejaring pengajar BIPA;
berbagi pengalaman pembelajaran;
meningkatkan kompetensi pengajar;
mengembangkan bahan ajar;
melakukan kegiatan ilmiah;
membangun komunikasi antarpengajar dan pegiat BIPA.
Dengan demikian, pengembangan BIPA bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan ekosistem yang melibatkan akademisi, pengajar, lembaga pendidikan, organisasi profesi, dan masyarakat.
1.4 Karakteristik Pembelajar BIPA
Salah satu hal paling penting dalam pembelajaran BIPA adalah memahami siapa pembelajarnya.
Tidak semua orang asing belajar bahasa Indonesia dengan alasan yang sama. Perbedaan tujuan akan memengaruhi materi, metode, aktivitas, dan evaluasi pembelajaran.
A. Pembelajar dengan Motivasi Akademik
Pembelajar akademik biasanya mempelajari bahasa Indonesia karena kebutuhan pendidikan.
Contohnya:
mahasiswa asing yang kuliah di Indonesia;
mahasiswa yang mengikuti pertukaran pelajar;
peneliti asing;
mahasiswa yang mengambil program studi Indonesia di luar negeri.
Kebutuhan mereka dapat meliputi:
memahami perkuliahan;
membaca artikel ilmiah;
berdiskusi;
menulis tugas;
melakukan presentasi;
melakukan penelitian.
Karena itu, materi BIPA untuk pembelajar akademik perlu diarahkan pada kemampuan bahasa yang mendukung kegiatan akademik.
B. Pembelajar dengan Motivasi Bisnis dan Profesional
Kelompok ini mempelajari bahasa Indonesia karena kebutuhan pekerjaan atau bisnis.
Misalnya, seorang ekspatriat yang bekerja di perusahaan Indonesia membutuhkan bahasa Indonesia untuk:
rapat;
komunikasi dengan karyawan;
melakukan negosiasi;
memahami dokumen;
berinteraksi dengan pelanggan;
membangun hubungan profesional.
Materi yang digunakan sebaiknya bersifat kontekstual.
Contohnya:
"Saya ingin menjadwalkan pertemuan dengan bagian pemasaran."
atau:
"Apakah kita bisa membahas proposal ini besok?"
Materi semacam itu lebih relevan dibandingkan hanya menghafalkan kosakata secara terpisah.
C. Pembelajar Diplomatik
Diplomat dan pekerja internasional memiliki kebutuhan komunikasi yang lebih khusus.
Mereka mungkin membutuhkan bahasa Indonesia untuk:
kegiatan resmi;
pertemuan;
komunikasi antarlembaga;
kegiatan sosial;
memahami budaya dan etiket Indonesia.
Dalam konteks ini, kemampuan pragmatik menjadi sangat penting.
Pembelajar harus memahami bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana, kepada siapa, kapan, dan dalam situasi apa sesuatu dikatakan.
D. Pembelajar Pariwisata
Wisatawan asing mungkin mempelajari bahasa Indonesia dengan tujuan yang sangat praktis.
Misalnya:
"Berapa harganya?"
"Di mana kamar kecil?"
"Saya ingin membeli tiket."
"Bagaimana cara pergi ke pantai?"
Materi pembelajaran dapat diarahkan pada situasi kehidupan sehari-hari seperti:
di bandara;
di hotel;
di restoran;
di pasar;
di tempat wisata;
menggunakan transportasi;
bertanya arah.
E. Pembelajar karena Hobi dan Minat
Tidak semua pembelajar BIPA memiliki kebutuhan akademik atau profesional.
Ada pula orang asing yang mempelajari bahasa Indonesia karena:
tertarik dengan budaya Indonesia;
memiliki teman atau keluarga dari Indonesia;
menyukai musik Indonesia;
tertarik pada film Indonesia;
ingin membaca karya sastra Indonesia;
memiliki pengalaman tinggal di Indonesia.
Kelompok ini biasanya membutuhkan pembelajaran yang lebih fleksibel dan menyenangkan.
F. Pengaruh Latar Belakang Budaya
Pembelajar BIPA berasal dari berbagai budaya. Perbedaan budaya dapat memengaruhi cara mereka memahami bahasa Indonesia.
Misalnya, cara menyapa, penggunaan sapaan, ekspresi kesopanan, gestur, cara menolak, cara meminta bantuan, dan cara menyampaikan pendapat dapat berbeda antara satu budaya dengan budaya lainnya.
Karena itu, pengajar BIPA perlu berhati-hati agar tidak menganggap semua pembelajar asing memiliki pola pikir dan pengalaman yang sama.
Pembelajaran BIPA idealnya memberikan ruang bagi pembelajar untuk membandingkan budaya asalnya dengan budaya Indonesia.
Misalnya:
Bagaimana cara menyapa orang yang lebih tua di negara Anda?
Kemudian dibandingkan dengan:
Bagaimana cara menyapa orang yang lebih tua dalam masyarakat Indonesia?
Aktivitas seperti ini dapat membuat pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna.
1.5 Rangkuman
BIPA adalah pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, yaitu pembelajaran bahasa Indonesia yang ditujukan kepada orang yang bukan penutur asli bahasa Indonesia.
BIPA memiliki karakteristik khusus karena pembelajarnya memiliki latar belakang bahasa, budaya, pendidikan, usia, pekerjaan, dan tujuan belajar yang beragam.
BIPA tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran bahasa, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan akademik, profesional, sosial, budaya, diplomatik, dan pariwisata.
Dalam konteks kebijakan nasional, UU Nomor 24 Tahun 2009 menjadi salah satu landasan penting dalam pengaturan bahasa Indonesia dan memuat arah peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional.
Keberhasilan pembelajaran BIPA sangat bergantung pada kemampuan pengajar memahami kebutuhan pembelajar. Oleh sebab itu, pengembangan materi BIPA sebaiknya tidak bersifat seragam. Materi untuk mahasiswa asing tentu berbeda dengan materi untuk diplomat, pekerja, wisatawan, atau pembelajar yang mempelajari bahasa Indonesia karena hobi.
Hal penting lainnya adalah bahwa bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Pembelajar BIPA perlu memahami bahasa Indonesia sekaligus konteks budaya yang menyertainya. Penelitian BIPA juga menempatkan pemahaman budaya sebagai bagian penting agar pembelajar dapat menggunakan bahasa secara tepat dalam kehidupan nyata.
Latihan
A. Pilihan Ganda
1. BIPA merupakan singkatan dari ....
A. Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing
B. Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
C. Bahasa Internasional bagi Penutur Asing
D. Bahasa Indonesia dan Penutur Asing
2. Salah satu karakteristik utama pembelajar BIPA adalah ....
A. seluruhnya memiliki bahasa pertama yang sama
B. seluruhnya memiliki tujuan belajar yang sama
C. memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang beragam
D. hanya berasal dari lingkungan akademik
3. Pembelajaran BIPA untuk mahasiswa asing sebaiknya banyak diarahkan pada ....
A. kebutuhan akademik dan komunikasi kampus
B. hafalan nama-nama daerah
C. permainan tanpa tujuan pembelajaran
D. materi yang sama untuk semua pembelajar
4. Salah satu tujuan pembelajar BIPA dalam bidang profesional adalah ....
A. memahami komunikasi di tempat kerja
B. menghafalkan seluruh kosakata bahasa Indonesia
C. mempelajari semua bahasa daerah
D. menggantikan bahasa pertama mereka
5. Mengapa budaya penting dalam pembelajaran BIPA?
A. Karena bahasa tidak memiliki aturan
B. Karena penggunaan bahasa berkaitan dengan konteks sosial dan budaya
C. Karena semua pembelajar BIPA harus menjadi orang Indonesia
D. Karena budaya lebih penting daripada bahasa
6. UU Nomor 24 Tahun 2009 mengatur tentang ....
A. pendidikan tinggi
B. sistem peradilan
C. bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan
D. pariwisata Indonesia
7. Salah satu arah kebijakan yang relevan dengan pengembangan BIPA adalah ....
A. menghapus penggunaan bahasa Indonesia
B. meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional
C. membatasi bahasa Indonesia hanya di Indonesia
D. mengganti bahasa Indonesia dengan bahasa asing
8. Pembelajar BIPA yang mempelajari bahasa Indonesia karena ingin berwisata termasuk pembelajar dengan motivasi ....
A. akademik
B. diplomatik
C. pariwisata
D. penelitian
9. Kemampuan memahami kapan dan kepada siapa suatu ungkapan digunakan berkaitan erat dengan ....
A. pragmatik
B. ejaan saja
C. kosakata saja
D. fonologi saja
10. Prinsip penting dalam pengembangan pembelajaran BIPA adalah ....
A. semua pembelajar harus menggunakan materi yang sama
B. materi harus disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar
C. budaya tidak perlu diperhatikan
D. tujuan pembelajaran tidak perlu dianalisis
Kunci Jawaban
1. B
2. C
3. A
4. A
5. B
6. C
7. B
8. C
9. A
10. B
B. Pertanyaan
Jawablah pertanyaan berikut secara argumentatif.
1. Jelaskan pengertian BIPA dengan menggunakan bahasa Anda sendiri!
2. Apa perbedaan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asli dengan pembelajaran BIPA?
3. Mengapa BIPA dapat dikaitkan dengan diplomasi kebahasaan?
4. Jelaskan hubungan antara bahasa dan budaya dalam pembelajaran BIPA!
5. Mengapa seorang pengajar BIPA perlu mengetahui latar belakang pembelajarnya?
6. Bagaimana strategi pembelajaran BIPA bagi mahasiswa asing yang belajar di perguruan tinggi Indonesia?
7. Bagaimana materi BIPA yang tepat untuk wisatawan asing?
8. Jelaskan peran UU Nomor 24 Tahun 2009 dalam pengembangan bahasa Indonesia dan relevansinya terhadap BIPA.
9. Mengapa tujuan belajar perlu menjadi dasar dalam penyusunan materi BIPA?
10. Menurut Anda, apa tantangan terbesar dalam pengembangan BIPA di era globalisasi?
C. Aktivitas Pembelajaran di "Ruang Pemuda"
Aktivitas 1 – Analisis Profil Pembelajar
Pilih salah satu profil berikut:
Profil A: Mahasiswa Jepang berusia 20 tahun yang akan mengikuti pertukaran mahasiswa selama satu semester di Indonesia.
Profil B: Profesional Korea Selatan yang akan bekerja selama tiga tahun di Jakarta.
Profil C: Wisatawan Australia yang akan berlibur selama dua minggu di Indonesia.
Profil D: Diplomat asing yang ditugaskan di Indonesia.
Kemudian jawab:
1. Apa tujuan belajar bahasa Indonesianya?
2. Kosakata apa yang paling dibutuhkan?
3. Situasi komunikasi apa yang akan dihadapi?
4. Materi BIPA apa yang harus diberikan?
5. Aktivitas pembelajaran apa yang paling sesuai?
Aktivitas 2 – Diskusi Forum
Pertanyaan diskusi:
"Apakah menguasai tata bahasa Indonesia saja sudah cukup bagi seorang pembelajar BIPA untuk dapat berkomunikasi dengan baik di Indonesia? Jelaskan pendapat Anda dengan memberikan contoh."
Mahasiswa diharapkan memberikan jawaban berdasarkan konsep bahasa, komunikasi, dan budaya yang telah dipelajari dalam Bab 1.
D. Tugas
Tugas individu: Analisis Kebutuhan Pembelajar BIPA
Carilah satu contoh profil pembelajar BIPA, kemudian buat analisis singkat dengan format:
Komponen
Uraian
Negara asal
...
Usia
...
Profesi/status
...
Tujuan belajar
...
Kebutuhan bahasa
...
Situasi komunikasi
...
Kosakata yang diperlukan
...
Materi BIPA yang sesuai
...
Aktivitas pembelajaran
...
Unsur budaya yang perlu dikenalkan
...
Panjang tugas: 500–750 kata.
Ketentuan: gunakan minimal 2 sumber rujukan akademik dan cantumkan sumber tersebut pada bagian akhir tugas.
Penutup
Pada Bab 1 ini, mahasiswa perlu memahami satu prinsip dasar: BIPA bukan sekadar mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang asing, tetapi membantu pembelajar menggunakan bahasa Indonesia secara tepat sesuai kebutuhan, situasi, dan konteks budaya.
Dengan memahami hakikat BIPA, landasan pengembangannya, serta karakteristik pembelajarnya, mahasiswa akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mempelajari bab-bab berikutnya, terutama yang berkaitan dengan kurikulum, analisis kebutuhan, materi ajar, metode pembelajaran, media, dan evaluasi BIPA.
Referensi :
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Jurnal Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (JBIPA), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Kajian pengembangan bahan ajar BIPA dalam publikasi Badan Bahasa.
Inspirasi
Kolaborasi
Pembelajaran
info@ruangpemuda.info
085145459727
© 2024. All rights reserved.
