Pilihan Bahasa dalam Sosiolinguistik

Pelajari lebih lanjut tentang pilihan bahasa dalam sosiolinguistik dan bagaimana hal ini berhubungan dengan pendidikan bahasa Indonesia. Temukan cara mahasiswa memilih bahasa sesuai konteks sosial dan situasi. Dapatkan wawasan mendalam tentang penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari.

SOSIOLINGUISTIK

10/14/202617 min read

white concrete building
white concrete building

BAB 5 – PILIHAN BAHASA

Mata Kuliah: Sosiolinguistik
Program Studi: Pendidikan Bahasa Indonesia (S1)
Kelas Online: Ruang Pemuda

Oleh Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd

5.1 Pendahuluan

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa, seseorang dapat menyampaikan gagasan, mengungkapkan perasaan, membangun hubungan sosial, serta menunjukkan identitas dirinya. Namun, apakah seseorang selalu menggunakan bahasa yang sama ketika berbicara dengan orang tua, teman sebaya, dosen, atau orang yang baru dikenal? Tentu saja tidak.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering kali memilih bahasa yang berbeda sesuai dengan lawan bicara, tempat, tujuan komunikasi, dan situasi yang dihadapinya. Seorang mahasiswa, misalnya, mungkin menggunakan bahasa daerah ketika berbicara dengan orang tuanya di rumah, menggunakan bahasa Indonesia ragam santai ketika bercakap-cakap dengan teman, dan menggunakan bahasa Indonesia yang lebih formal ketika mempresentasikan makalah di depan kelas.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menguasai kosakata dan tata bahasa, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan bahasa terhadap konteks sosial. Dalam kajian sosiolinguistik, fenomena ini dikenal dengan istilah pilihan bahasa (language choice).

Pilihan bahasa menjadi salah satu topik penting dalam sosiolinguistik karena masyarakat Indonesia memiliki keragaman bahasa yang sangat tinggi. Dalam satu lingkungan masyarakat, seseorang dapat menguasai bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahkan bahasa asing. Kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa memungkinkan seseorang memilih bahasa yang dianggap paling sesuai untuk keperluan komunikasi tertentu.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang berasal dari Mandar mungkin menggunakan bahasa Mandar ketika berbicara dengan keluarganya, bahasa Indonesia ketika mengikuti perkuliahan, dan bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengan teman dari luar negeri. Pilihan tersebut tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan situasional.

Melalui pembelajaran Bab 5 ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep pilihan bahasa, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pilihan bahasa, menganalisis penggunaan bahasa dalam keluarga multilingual, serta melakukan observasi sederhana terhadap penggunaan bahasa dalam situasi resmi dan santai.

5.2 Hakikat dan Pengertian Pilihan Bahasa

Pilihan bahasa adalah tindakan seseorang atau kelompok masyarakat dalam menentukan bahasa, variasi bahasa, atau ragam bahasa yang digunakan dalam suatu peristiwa komunikasi berdasarkan konteks sosial tertentu.

Pilihan bahasa dapat terjadi ketika seseorang menentukan apakah akan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau bahasa asing. Pilihan tersebut juga dapat terjadi ketika seseorang menggunakan bahasa yang sama, tetapi memilih ragam formal atau informal sesuai dengan situasi komunikasi.

Dengan demikian, pilihan bahasa tidak hanya berkaitan dengan pertanyaan, “Bahasa apa yang digunakan seseorang?”, tetapi juga mencakup pertanyaan, “Mengapa bahasa tersebut dipilih?”, “Kepada siapa bahasa itu digunakan?”, dan “Dalam situasi apa bahasa itu digunakan?”

Perhatikan ilustrasi berikut.

Ilustrasi 1: Mahasiswa di lingkungan kampus

Rina berasal dari keluarga yang menggunakan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berada di rumah, Rina sering berbicara dengan ibunya menggunakan bahasa Bugis. Ketika bertemu teman-temannya di kampus, ia menggunakan bahasa Indonesia dengan gaya santai. Namun, ketika menyampaikan presentasi di hadapan dosen dan mahasiswa lain, Rina menggunakan bahasa Indonesia yang lebih formal.

Dari ilustrasi tersebut, kita dapat melihat bahwa Rina memiliki beberapa pilihan bahasa yang digunakan berdasarkan situasi.

· Di rumah, Rina menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa komunikasi keluarga.

· Bersama teman, Rina menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam santai.

· Dalam presentasi akademik, Rina menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam formal.

Mengapa Rina melakukan hal tersebut? Karena setiap situasi memiliki kebutuhan komunikasi, norma kesopanan, dan hubungan sosial yang berbeda.

Pilihan bahasa juga tidak selalu berarti seseorang berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain. Seseorang yang terus menggunakan bahasa Indonesia dapat tetap melakukan pilihan bahasa melalui perbedaan tingkat formalitas, penggunaan sapaan, pilihan kosakata, dan gaya penyampaian.

Contohnya, ketika berbicara dengan teman, seseorang mengatakan, “Kamu sudah makan belum?” Akan tetapi, ketika berbicara dengan dosen yang belum akrab, ia mengatakan, “Bapak sudah makan?” atau “Apakah Bapak sudah makan?” Perbedaan tersebut memperlihatkan penyesuaian bahasa terhadap hubungan sosial dan tingkat kesantunan.

5.3 Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual

5.3.1 Pengertian masyarakat multilingual

Masyarakat multilingual adalah masyarakat yang menggunakan atau memiliki akses terhadap tiga bahasa atau lebih dalam kehidupan sosialnya. Dalam praktiknya, istilah multilingual sering dibicarakan bersama istilah bilingual, yaitu kemampuan atau penggunaan dua bahasa.

Dalam masyarakat Indonesia, multilingualisme dapat ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, kampus, pasar, hingga tempat kerja.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin menguasai bahasa Indonesia, bahasa Mandar, dan bahasa Inggris. Mahasiswa tersebut menggunakan bahasa Mandar untuk berkomunikasi dengan sebagian anggota keluarga, bahasa Indonesia untuk mengikuti kegiatan akademik, dan bahasa Inggris untuk membaca sumber ilmiah atau berkomunikasi dengan penutur asing.

Penguasaan beberapa bahasa tidak berarti semua bahasa tersebut digunakan dengan tingkat kemahiran yang sama. Seseorang mungkin sangat lancar menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, tetapi hanya mampu menggunakan bahasa daerah tersebut secara terbatas dalam konteks akademik. Sebaliknya, seseorang mungkin lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi resmi.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa pilihan bahasa bersifat kontekstual. Bahasa yang paling tepat digunakan tidak selalu bahasa yang paling dikuasai, tetapi bahasa yang sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan kondisi komunikasi.

5.3.2 Bentuk-bentuk pilihan bahasa

Dalam kajian sosiolinguistik, pilihan bahasa dapat diamati melalui beberapa bentuk berikut.

a. Pemilihan satu bahasa

Pemilihan satu bahasa terjadi ketika seseorang menentukan bahasa tertentu sebagai bahasa utama dalam suatu interaksi.

Contoh:

Seorang mahasiswa berdiskusi dengan temannya menggunakan bahasa Indonesia karena keduanya berasal dari daerah yang berbeda dan tidak menguasai bahasa daerah masing-masing.

Meskipun mahasiswa tersebut menguasai bahasa daerah, ia memilih bahasa Indonesia agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik.

b. Pemilihan variasi atau ragam bahasa

Pilihan bahasa dapat terjadi di dalam satu bahasa yang sama, misalnya melalui pemilihan ragam formal dan informal.

Contoh:

· Situasi santai: “Nanti kita ketemu di kantin, ya.”

· Situasi resmi: “Kita akan bertemu di kantin setelah perkuliahan selesai.”

Kedua kalimat tersebut menyampaikan maksud yang hampir sama, tetapi berbeda dalam tingkat formalitas.

c. Alih kode (code-switching)

Alih kode adalah peralihan dari satu bahasa atau kode bahasa ke bahasa lain dalam suatu rangkaian komunikasi. Peralihan tersebut dapat terjadi karena perubahan lawan bicara, topik, atau situasi.

Contoh:

Dua mahasiswa sedang berbicara menggunakan bahasa daerah. Ketika dosen datang dan bergabung dalam percakapan, keduanya beralih menggunakan bahasa Indonesia agar dosen dapat memahami pembicaraan mereka.

Alih kode juga dapat terjadi dalam satu percakapan ketika penutur berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris untuk menjelaskan istilah tertentu yang lebih dikenal dalam bahasa Inggris.

d. Campur kode (code-mixing)

Campur kode terjadi ketika unsur bahasa lain disisipkan ke dalam tuturan yang menggunakan bahasa tertentu sebagai bahasa utama.

Contoh:

“Besok kita ada meeting dengan ketua program studi.”

Dalam kalimat tersebut, kata meeting merupakan unsur bahasa Inggris yang disisipkan ke dalam tuturan bahasa Indonesia.

Contoh lain adalah, “Tugasnya sudah saya upload ke platform kelas.”

Campur kode sering ditemukan dalam komunikasi mahasiswa, lingkungan kerja, dan media sosial. Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan berbahasa, kebutuhan istilah, lingkungan pergaulan, atau anggapan bahwa istilah tertentu lebih praktis digunakan.

Namun, alih kode dan campur kode tidak boleh langsung dianggap sebagai kesalahan berbahasa. Penilaiannya perlu mempertimbangkan konteks, tujuan komunikasi, serta norma bahasa yang berlaku dalam situasi tersebut. Dalam karya ilmiah atau dokumen resmi, misalnya, penggunaan bahasa perlu mengikuti kaidah dan ketentuan yang relevan.

5.4 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pilihan Bahasa

Pilihan bahasa tidak terjadi tanpa alasan. Ada berbagai faktor yang memengaruhi keputusan seseorang dalam menggunakan bahasa tertentu. Faktor-faktor tersebut saling berhubungan dan dapat berubah sesuai dengan konteks komunikasi.

5.4.1 Lawan bicara

Lawan bicara merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan bahasa.

Seseorang biasanya mempertimbangkan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak berbicara. Jika kedua penutur berasal dari daerah yang sama dan menguasai bahasa daerah yang sama, mereka mungkin memilih bahasa daerah tersebut. Namun, jika lawan bicara berasal dari daerah lain, bahasa Indonesia dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.

Contoh ilustrasi:

Andi dan Rahman berasal dari daerah yang sama dan sama-sama memahami bahasa daerah mereka. Ketika berbicara di kantin, mereka menggunakan bahasa daerah. Namun, ketika seorang mahasiswa dari Jawa bergabung dalam percakapan, mereka beralih menggunakan bahasa Indonesia.

Peralihan tersebut menunjukkan bahwa pilihan bahasa dipengaruhi oleh kebutuhan untuk membangun komunikasi yang dapat dipahami oleh semua peserta percakapan.

5.4.2 Situasi dan tempat komunikasi

Tempat berlangsungnya komunikasi dapat memengaruhi bahasa yang digunakan. Situasi resmi biasanya menuntut penggunaan bahasa yang lebih terstruktur dan santun, sedangkan situasi santai memberikan ruang lebih besar bagi penggunaan bahasa informal.

Contoh:

Di ruang sidang skripsi, mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia formal ketika menjawab pertanyaan penguji. Namun, setelah sidang selesai, mahasiswa tersebut dapat berbicara lebih santai dengan teman-temannya.

Perbedaan tersebut tidak berarti bahwa bahasa santai selalu tidak sopan atau bahasa formal selalu lebih baik. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan situasi penggunaannya.

5.4.3 Tujuan komunikasi

Tujuan komunikasi juga memengaruhi pilihan bahasa. Seseorang yang ingin menyampaikan informasi akademik, melakukan negosiasi bisnis, membangun keakraban, atau menyampaikan kritik mungkin memilih bahasa yang berbeda.

Contoh:

Seorang dosen menjelaskan konsep sosiolinguistik kepada mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia yang jelas dan terstruktur. Ketika berbicara santai dengan mahasiswa setelah perkuliahan, dosen tersebut mungkin menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan akrab.

Jika tujuannya adalah memberikan instruksi resmi, dosen dapat mengatakan, “Mahasiswa diminta mengumpulkan tugas paling lambat pada hari Jumat.” Dalam percakapan santai, dosen mungkin mengatakan, “Jangan lupa, tugasnya dikumpulkan paling lambat Jumat, ya.”

Perbedaan pilihan bahasa tersebut menunjukkan bahwa tujuan komunikasi menentukan cara penutur menyampaikan pesan.

5.4.4 Hubungan sosial dan status peserta komunikasi

Hubungan sosial mencakup kedekatan, usia, jabatan, status sosial, serta hubungan kekuasaan antara penutur dan lawan bicara.

Seseorang mungkin menggunakan bahasa yang lebih formal ketika berbicara dengan pimpinan, dosen, atau orang yang baru dikenal. Sebaliknya, ia dapat menggunakan bahasa yang lebih santai ketika berbicara dengan sahabat atau anggota keluarga.

Contoh ilustrasi:

Seorang mahasiswa mengatakan kepada temannya, “Kirim catatan kuliahmu, dong.” Ketika meminta hal yang sama kepada dosen, ia mengatakan, “Mohon izin, Bapak/Ibu. Apakah saya boleh meminta salinan materi perkuliahan?”

Kedua tuturan memiliki tujuan yang sama, yaitu meminta materi. Akan tetapi, bentuk bahasa yang digunakan berbeda karena hubungan sosial antara penutur dan lawan bicara tidak sama.

Meskipun demikian, penggunaan bahasa tidak ditentukan oleh status sosial semata. Kedekatan, kebiasaan komunikasi, dan budaya setempat juga dapat memengaruhi cara seseorang berbicara.

5.4.5 Topik pembicaraan

Topik pembicaraan dapat memengaruhi pilihan bahasa dan kosakata yang digunakan.

Contohnya, ketika membicarakan tradisi keluarga, seseorang mungkin menggunakan bahasa daerah yang dianggap lebih tepat untuk menyampaikan istilah budaya tertentu. Ketika membahas teori linguistik, ia mungkin menggunakan bahasa Indonesia dengan istilah akademik atau istilah bahasa asing yang relevan.

Seorang mahasiswa dapat mengatakan:

· Dalam percakapan keluarga: “Nanti kita ikut acara adat di rumah nenek.”

· Dalam diskusi akademik: “Tradisi tersebut dapat dikaji sebagai bagian dari praktik kebahasaan dan identitas budaya masyarakat.”

Perbedaan topik mendorong penutur menyesuaikan pilihan kosakata dan gaya bahasa.

5.4.6 Identitas dan solidaritas kelompok

Bahasa juga berfungsi sebagai penanda identitas. Penggunaan bahasa daerah dapat menunjukkan identitas kedaerahan, sedangkan penggunaan istilah tertentu dapat memperlihatkan kedekatan dengan kelompok pergaulan atau komunitas profesional.

Contoh:

Sekelompok mahasiswa yang berasal dari daerah yang sama menggunakan bahasa daerah ketika berkumpul. Penggunaan bahasa tersebut bukan hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membangun keakraban dan rasa kebersamaan.

Namun, pilihan bahasa sebagai penanda identitas perlu dipahami secara kontekstual. Penggunaan bahasa daerah tidak otomatis menunjukkan bahwa penuturnya menolak bahasa Indonesia. Seseorang dapat sekaligus memiliki identitas lokal dan nasional serta menggunakan bahasa yang berbeda sesuai dengan situasi.

5.4.7 Kebijakan bahasa dan norma masyarakat

Pilihan bahasa juga dipengaruhi oleh kebijakan lembaga dan norma sosial. Dalam lingkungan pendidikan, misalnya, bahasa Indonesia umumnya digunakan dalam perkuliahan, presentasi ilmiah, penulisan makalah, dan komunikasi akademik resmi.

Sementara itu, bahasa daerah dapat digunakan dalam kegiatan yang bertujuan memperkenalkan budaya lokal atau ketika bahasa tersebut sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Contoh:

Dalam seminar nasional, peserta menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama presentasi. Akan tetapi, dalam kegiatan pengenalan sastra daerah, pemateri dapat menggunakan bahasa daerah untuk menjelaskan istilah budaya tertentu, disertai penjelasan dalam bahasa Indonesia agar dapat dipahami peserta.

Pilihan bahasa yang baik mempertimbangkan aturan yang berlaku, kebutuhan peserta, dan tujuan kegiatan.

5.4.8 Kemampuan berbahasa dan kebiasaan penutur

Kemampuan menguasai bahasa tertentu turut menentukan pilihan bahasa. Seseorang cenderung menggunakan bahasa yang dapat ia gunakan secara efektif untuk menyampaikan maksudnya.

Contoh:

Seorang mahasiswa yang sedang belajar bahasa Inggris mungkin menggunakan bahasa Indonesia ketika menjelaskan materi yang rumit. Namun, ia berusaha menggunakan bahasa Inggris ketika berlatih percakapan sederhana.

Pilihan bahasa juga dipengaruhi oleh kebiasaan. Seseorang yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia di rumah mungkin tetap menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan anggota keluarga, meskipun mereka sebenarnya memahami bahasa daerah.

Dengan demikian, latar belakang keluarga, pengalaman pendidikan, lingkungan pergaulan, dan intensitas penggunaan bahasa dapat membentuk kebiasaan berbahasa seseorang.

5.5 Pilihan Bahasa dalam Keluarga Multilingual

5.5.1 Pengertian keluarga multilingual

Keluarga multilingual adalah keluarga yang anggota-anggotanya menggunakan atau menguasai beberapa bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga seperti ini, pilihan bahasa dapat berlangsung secara dinamis sesuai dengan siapa yang berbicara, siapa yang diajak berbicara, dan kegiatan yang sedang dilakukan.

Keluarga merupakan lingkungan penting dalam pemerolehan dan pemeliharaan bahasa. Di dalam keluarga, anak dapat mempelajari bahasa daerah dari orang tua atau kakek-nenek, menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, dan mempelajari bahasa asing melalui pendidikan formal atau media digital.

Contoh:

Ayah menggunakan bahasa Mandar ketika berbicara dengan kakek dan nenek. Ibu lebih sering menggunakan bahasa Indonesia ketika membantu anak mengerjakan tugas sekolah. Anak menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan saudara kandung, tetapi dapat memahami bahasa Mandar ketika mendengar percakapan orang tua.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa anggota keluarga tidak selalu memiliki kemampuan yang sama dalam setiap bahasa.

5.5.2 Pola pilihan bahasa dalam keluarga

Pilihan bahasa dalam keluarga dapat ditemukan dalam beberapa pola berikut.

a. Bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi keluarga

Dalam keluarga tertentu, bahasa daerah menjadi bahasa utama untuk berkomunikasi dengan orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua.

Contoh:

Seorang anak menggunakan bahasa daerah ketika berbicara dengan neneknya karena bahasa tersebut merupakan bahasa yang paling nyaman digunakan oleh sang nenek.

Pola ini dapat membantu mempertahankan bahasa daerah antargenerasi.

b. Bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung

Bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa penghubung ketika anggota keluarga memiliki latar belakang bahasa daerah yang berbeda.

Contoh:

Ayah berasal dari keluarga penutur bahasa Bugis, sedangkan ibu berasal dari keluarga penutur bahasa Jawa. Keduanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di rumah karena lebih mudah dipahami bersama.

Anak-anak kemudian mungkin memahami kedua bahasa daerah tersebut dalam tingkat yang berbeda, bergantung pada interaksi dan paparan yang mereka terima.

c. Pembagian bahasa berdasarkan lawan bicara

Anggota keluarga dapat memilih bahasa berbeda ketika berbicara dengan orang yang berbeda.

Contoh:

Seorang anak menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan ibunya, tetapi menggunakan bahasa daerah ketika berbicara dengan kakeknya. Ketika menerima panggilan video dari sepupunya yang tinggal di luar negeri, ia mencoba menggunakan bahasa Inggris.

Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa dapat berfungsi sesuai dengan hubungan sosial dan kebutuhan komunikasi.

d. Perubahan bahasa antargenerasi

Dalam beberapa keluarga, generasi tua lebih sering menggunakan bahasa daerah, sedangkan generasi muda lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh sekolah, media, lingkungan pergaulan, dan kebiasaan keluarga.

Contoh:

Kakek selalu berbicara menggunakan bahasa daerah. Anak-anaknya memahami bahasa tersebut, tetapi lebih sering menjawab dengan bahasa Indonesia. Cucu-cucunya bahkan hanya memahami beberapa kosakata dasar.

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah secara aktif dapat berkurang.

Fenomena ini penting diperhatikan karena pilihan bahasa dalam keluarga dapat berhubungan dengan pemeliharaan maupun pergeseran bahasa.

5.5.3 Pilihan bahasa dan pemeliharaan bahasa daerah

Pemeliharaan bahasa adalah upaya mempertahankan penggunaan suatu bahasa agar tetap digunakan oleh penuturnya, termasuk oleh generasi berikutnya. Dalam keluarga multilingual, pemeliharaan bahasa daerah dapat dilakukan melalui kebiasaan berkomunikasi, pengenalan kosakata, cerita rakyat, lagu daerah, dan kegiatan budaya.

Misalnya, orang tua membiasakan anak berbicara menggunakan bahasa daerah ketika berinteraksi dengan kakek dan nenek. Mereka juga menjelaskan arti ungkapan daerah yang berkaitan dengan kesantunan, kekerabatan, dan tradisi lokal.

Akan tetapi, pemeliharaan bahasa daerah tidak berarti melarang anak mempelajari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Anak tetap dapat mengembangkan kemampuan multilingual. Hal terpenting adalah memberikan kesempatan yang cukup untuk menggunakan setiap bahasa sesuai dengan kebutuhan dan konteksnya.

5.5.4 Contoh analisis keluarga multilingual

Perhatikan contoh berikut.

Keluarga Pak Hasan tinggal di sebuah lingkungan masyarakat yang menggunakan bahasa Mandar dan bahasa Indonesia. Pak Hasan dan istrinya memahami kedua bahasa tersebut. Mereka menggunakan bahasa Mandar ketika berbicara dengan orang tua dan kerabat dekat, sedangkan bahasa Indonesia lebih sering digunakan ketika membantu anak mengerjakan tugas sekolah.

Anak mereka, Fajar, terbiasa menggunakan bahasa Indonesia bersama teman-teman sekolah. Fajar memahami percakapan bahasa Mandar di rumah, tetapi kadang-kadang kesulitan menjawab menggunakan bahasa yang sama.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat dianalisis.

1. Pilihan bahasa berdasarkan lawan bicara: Pak Hasan menggunakan bahasa Mandar dengan orang tua dan kerabat dekat.

2. Pilihan bahasa berdasarkan kegiatan: Bahasa Indonesia digunakan ketika membantu anak mengerjakan tugas sekolah.

3. Pengaruh lingkungan pendidikan: Fajar lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa tersebut dominan dalam kegiatan sekolah.

4. Kemungkinan pemeliharaan bahasa: Fajar tetap memperoleh paparan bahasa Mandar melalui percakapan keluarga.

5. Tantangan antargenerasi: Pemahaman bahasa Mandar yang tidak selalu disertai kemampuan berbicara menunjukkan perlunya kesempatan berlatih secara aktif.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa pilihan bahasa dalam keluarga tidak sekadar persoalan kebiasaan berbicara. Pilihan bahasa juga berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, identitas budaya, hubungan keluarga, dan keberlanjutan bahasa daerah.

5.6 Penggunaan Bahasa dalam Situasi Resmi dan Santai

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa sering dibedakan berdasarkan tingkat formalitas situasi. Perbedaan ini dapat diamati melalui pilihan kosakata, struktur kalimat, sapaan, dan cara menyampaikan maksud.

5.6.1 Bahasa dalam situasi resmi

Situasi resmi adalah situasi komunikasi yang berlangsung dalam konteks kelembagaan, akademik, profesional, atau kegiatan formal lainnya.

Contohnya meliputi:

· Perkuliahan dan presentasi akademik.

· Seminar dan konferensi ilmiah.

· Rapat organisasi.

· Surat resmi dan pengumuman kelembagaan.

· Wawancara kerja.

· Pelayanan administrasi.

Dalam situasi tersebut, penutur umumnya memilih bahasa yang jelas, terstruktur, santun, dan sesuai dengan tujuan komunikasi.

Contoh tuturan mahasiswa dalam presentasi:

“Selamat pagi, Bapak dan Ibu dosen serta teman-teman mahasiswa. Pada kesempatan ini, saya akan memaparkan hasil observasi mengenai pilihan bahasa dalam lingkungan keluarga multilingual.”

Tuturan tersebut menggunakan sapaan yang sesuai dengan situasi akademik dan menyampaikan tujuan presentasi secara jelas.

Contoh lain, ketika mahasiswa mengirim pesan kepada dosen:

“Selamat pagi, Bapak. Mohon izin bertanya mengenai batas waktu pengumpulan tugas mata kuliah Sosiolinguistik. Terima kasih.”

Pesan tersebut memperlihatkan penggunaan sapaan, ungkapan permohonan, dan penutup yang sesuai dengan hubungan akademik.

5.6.2 Bahasa dalam situasi santai

Situasi santai merupakan situasi komunikasi yang berlangsung dalam hubungan akrab atau kegiatan sehari-hari yang tidak menuntut tingkat formalitas tinggi.

Contohnya meliputi:

· Percakapan dengan teman sebaya.

· Obrolan di kantin.

· Percakapan dengan saudara kandung.

· Percakapan santai melalui pesan singkat.

· Diskusi informal di luar kegiatan akademik.

Dalam situasi ini, penutur dapat menggunakan kalimat yang lebih pendek, sapaan akrab, ungkapan percakapan, bahasa daerah, atau istilah populer.

Contoh percakapan mahasiswa di kantin:

Rina: “Kamu sudah makan?”

Dewi: “Belum. Kita makan di kantin, yuk!”

Rina: “Ayo, sekalian cerita soal tugas tadi.”

Percakapan tersebut menggunakan bahasa Indonesia ragam santai. Kalimatnya ringkas dan menunjukkan kedekatan antara kedua penutur.

Contoh lain:

Andi: “Tugas sosiolinguistik sudah selesai?”

Rahman: “Belum. Aku masih bingung bagian analisisnya.”

Andi: “Nanti kita bahas sama-sama, ya.”

Bahasa santai dalam contoh tersebut tetap dapat menyampaikan maksud secara jelas. Artinya, bahasa santai bukanlah bahasa yang tidak memiliki aturan, melainkan variasi bahasa yang disesuaikan dengan situasi dan hubungan sosial.

5.6.3 Perbandingan bahasa resmi dan santai

Perhatikan tabel berikut.

Aspek

Situasi resmi

Situasi santai

Sapaan

Bapak, Ibu, Saudara

Kamu, teman, nama panggilan

Pilihan kata

Mohon, dipersilakan, menyampaikan

Tolong, ayo, cerita

Struktur kalimat

Cenderung lengkap dan terstruktur

Cenderung ringkas dan fleksibel

Tujuan

Menyampaikan informasi secara formal

Membangun keakraban atau bertukar informasi

Contoh

“Mohon izin, saya ingin menyampaikan pendapat.”

“Aku mau kasih pendapat, nih.”

Perlu diingat bahwa perbedaan tersebut tidak bersifat mutlak. Dalam situasi santai, seseorang tetap dapat menggunakan bahasa yang sopan dan lengkap. Sebaliknya, komunikasi resmi tidak selalu harus menggunakan kalimat yang panjang atau rumit. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan konteks, tujuan, dan kebutuhan komunikasi.

5.7 Praktik Observasi Pilihan Bahasa

Pada bagian ini, mahasiswa akan melakukan observasi sederhana untuk mengidentifikasi pilihan bahasa dalam situasi resmi dan santai. Kegiatan ini bertujuan menghubungkan konsep teoretis sosiolinguistik dengan penggunaan bahasa yang nyata.

5.7.1 Tujuan observasi

Setelah melaksanakan kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu:

1. Mengidentifikasi bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam dua situasi berbeda.

2. Menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi pilihan bahasa.

3. Membandingkan karakteristik bahasa resmi dan santai.

4. Menyusun laporan observasi sederhana berdasarkan data.

5. Mengembangkan sikap objektif dan menghargai keragaman bahasa masyarakat.

5.7.2 Langkah-langkah observasi

Langkah 1: Menentukan lokasi dan situasi

Pilih dua situasi komunikasi yang berbeda, yaitu satu situasi resmi dan satu situasi santai.

Contoh situasi resmi:

· Presentasi di kelas.

· Rapat organisasi mahasiswa.

· Diskusi akademik yang dipandu dosen.

Contoh situasi santai:

· Percakapan mahasiswa di kantin.

· Obrolan dengan teman sebelum perkuliahan.

· Percakapan keluarga dalam kegiatan sehari-hari.

Langkah 2: Mengamati penggunaan bahasa

Amati bahasa atau ragam bahasa yang digunakan oleh peserta komunikasi. Catat apakah mereka menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa asing, atau kombinasi beberapa bahasa.

Perhatikan pula pilihan sapaan, kosakata, panjang kalimat, dan perubahan bahasa selama percakapan berlangsung.

Langkah 3: Mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pilihan bahasa

Cobalah menjawab pertanyaan berikut:

· Siapa yang berbicara dan siapa lawan bicaranya?

· Apa tujuan percakapan tersebut?

· Apakah situasinya resmi atau santai?

· Apakah penutur menggunakan bahasa berbeda ketika lawan bicara berubah?

· Apakah terdapat alih kode atau campur kode?

· Apakah pilihan bahasa berkaitan dengan kedekatan, identitas, atau kebiasaan penutur?

Langkah 4: Mencatat hasil observasi

Gunakan tabel berikut sebagai panduan pencatatan.

Aspek pengamatan

Situasi resmi

Situasi santai

Lokasi

Peserta komunikasi

Bahasa yang digunakan

Ragam bahasa

Contoh tuturan

Faktor pilihan bahasa

Kesimpulan awal

Langkah 5: Menganalisis dan menyimpulkan

Setelah data terkumpul, bandingkan penggunaan bahasa pada kedua situasi tersebut. Jelaskan persamaan dan perbedaannya serta hubungkan temuan dengan konsep pilihan bahasa yang telah dipelajari.

Mahasiswa tidak cukup hanya menyatakan bahwa bahasa resmi lebih formal daripada bahasa santai. Mahasiswa harus menjelaskan bukti yang mendukung kesimpulan tersebut.

5.7.3 Contoh hasil observasi

Berikut contoh sederhana yang dapat dijadikan model analisis.

Seorang mahasiswa mengamati presentasi kelompok di kelas dan percakapan dua mahasiswa di kantin.

Observasi pertama: Presentasi di kelas

Mahasiswa yang melakukan presentasi membuka kegiatan dengan salam, menyapa dosen dan peserta, kemudian menyampaikan materi menggunakan bahasa Indonesia yang terstruktur. Ketika menjawab pertanyaan, ia menggunakan ungkapan seperti “Menurut hasil pengamatan kami...” dan “Berdasarkan data tersebut...”.

Analisis: Penggunaan bahasa Indonesia formal berkaitan dengan situasi akademik, tujuan penyampaian informasi, dan hubungan antara presenter, dosen, serta peserta presentasi.

Observasi kedua: Percakapan di kantin

Dua mahasiswa berbicara menggunakan bahasa Indonesia ragam santai. Mereka menggunakan sapaan akrab, kalimat pendek, dan beberapa istilah populer. Ketika teman lain bergabung, mereka menyesuaikan bahasa agar dapat dipahami bersama.

Analisis: Pilihan bahasa dipengaruhi oleh hubungan pertemanan, tujuan percakapan yang bersifat informal, dan perubahan peserta komunikasi.

Kesimpulan: Kedua situasi menunjukkan bahwa pilihan bahasa berhubungan erat dengan konteks sosial. Penutur menyesuaikan bahasa agar komunikasi berjalan efektif dan hubungan sosial dapat terpelihara.

Contoh tersebut merupakan ilustrasi pembelajaran, bukan hasil penelitian lapangan yang sesungguhnya. Mahasiswa harus menyusun kesimpulan berdasarkan hasil observasi mereka sendiri.

5.7.4 Etika pelaksanaan observasi

Observasi bahasa perlu dilakukan dengan memperhatikan etika. Mahasiswa harus meminta izin apabila pengamatan atau pencatatan berpotensi mengganggu kegiatan orang lain. Jangan merekam percakapan pribadi secara diam-diam atau menyebarkan identitas peserta tanpa persetujuan.

Apabila menggunakan kutipan tuturan, mahasiswa dapat menyamarkan nama penutur menjadi P1, P2, atau nama samaran. Catat konteks yang diperlukan untuk analisis, tetapi hindari informasi pribadi yang tidak relevan.

Mahasiswa juga harus menghindari penilaian bahwa bahasa daerah, aksen, atau ragam santai lebih rendah daripada bahasa formal. Fokus observasi adalah menjelaskan hubungan antara bahasa dan konteks sosial, bukan menghakimi latar belakang penuturnya.

5.8 Rangkuman

Pilihan bahasa merupakan fenomena penting dalam sosiolinguistik yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa berkaitan erat dengan konteks sosial. Seseorang tidak selalu menggunakan bahasa yang sama dalam setiap situasi, karena pilihan bahasa dipengaruhi oleh lawan bicara, tempat, tujuan komunikasi, hubungan sosial, topik pembicaraan, identitas kelompok, norma masyarakat, kemampuan berbahasa, dan kebiasaan penutur.

Dalam masyarakat multilingual, seseorang dapat menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pilihan tersebut dapat terjadi dalam bentuk pemilihan satu bahasa, pemilihan ragam bahasa, alih kode, maupun campur kode.

Keluarga multilingual menjadi salah satu lingkungan penting bagi penggunaan dan pemeliharaan bahasa. Pola komunikasi dalam keluarga dapat membantu anak menguasai beberapa bahasa, tetapi juga dapat memengaruhi keberlanjutan bahasa daerah antargenerasi.

Sementara itu, penggunaan bahasa dalam situasi resmi dan santai memperlihatkan bahwa tingkat formalitas, pilihan kosakata, dan cara penyampaian pesan dapat berubah sesuai dengan konteks. Situasi resmi umumnya menuntut bahasa yang lebih terstruktur, sedangkan situasi santai memungkinkan penggunaan ragam yang lebih akrab dan fleksibel.

Melalui observasi sederhana, mahasiswa dapat mengumpulkan data, mengidentifikasi faktor pilihan bahasa, dan menjelaskan hubungan antara penggunaan bahasa dengan kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, pembelajaran pilihan bahasa tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga melatih kepekaan mahasiswa terhadap kenyataan kebahasaan di lingkungan sekitarnya.

5.9 Latihan dan Tugas Mahasiswa

A. Pertanyaan pemahaman

Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan disertai contoh.

1. Jelaskan pengertian pilihan bahasa dalam kajian sosiolinguistik.

2. Mengapa seseorang dapat menggunakan bahasa yang berbeda ketika berada di rumah, kampus, dan tempat kerja?

3. Sebutkan dan jelaskan sekurang-kurangnya lima faktor yang memengaruhi pilihan bahasa.

4. Jelaskan perbedaan alih kode dan campur kode beserta masing-masing dua contoh.

5. Bagaimana pola komunikasi dalam keluarga multilingual dapat memengaruhi pemeliharaan bahasa daerah?

6. Jelaskan perbedaan penggunaan bahasa dalam situasi resmi dan santai.

7. Apakah penggunaan bahasa daerah dalam percakapan resmi selalu tidak tepat? Jelaskan jawaban Anda berdasarkan konteks komunikasi.

8. Mengapa observasi pilihan bahasa perlu dilakukan secara objektif dan memperhatikan etika?

B. Analisis kasus

Bacalah ilustrasi berikut.

Nadia berasal dari keluarga penutur bahasa Bugis. Di rumah, ia sering mendengar orang tuanya berbicara menggunakan bahasa Bugis. Namun, Nadia lebih sering menjawab menggunakan bahasa Indonesia. Di kampus, ia menggunakan bahasa Indonesia ragam santai ketika berbicara dengan teman-temannya. Ketika mempresentasikan makalah di kelas, ia menggunakan bahasa Indonesia yang lebih formal. Saat bertemu seorang teman yang berasal dari luar negeri, Nadia mencoba menggunakan bahasa Inggris.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, jawablah pertanyaan berikut.

1. Identifikasilah bahasa dan ragam bahasa yang digunakan Nadia dalam setiap situasi.

2. Jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi pilihan bahasa Nadia.

3. Apakah situasi Nadia dapat dikategorikan sebagai praktik multilingual? Jelaskan alasannya berdasarkan informasi dalam kasus.

4. Apa yang dapat dilakukan keluarga Nadia untuk membantu mempertahankan penggunaan bahasa Bugis?

5. Apakah perubahan ragam bahasa Nadia menunjukkan bahwa ia tidak konsisten dalam berbahasa? Jelaskan secara kritis.

C. Tugas observasi lapangan

Judul tugas: Analisis Pilihan Bahasa dalam Situasi Resmi dan Santai di Lingkungan Mahasiswa

Lakukan observasi terhadap dua peristiwa komunikasi, masing-masing satu situasi resmi dan satu situasi santai. Susun laporan dengan sistematika berikut.

1. Pendahuluan: Jelaskan latar belakang, tujuan, dan pentingnya pengamatan pilihan bahasa.

2. Metode observasi: Uraikan lokasi, situasi, waktu, dan cara pengumpulan data.

3. Hasil observasi: Sajikan bahasa yang digunakan, contoh tuturan yang relevan, dan konteks komunikasinya.

4. Pembahasan: Analisis faktor-faktor yang memengaruhi pilihan bahasa dengan menghubungkannya pada konsep dalam Bab 5.

5. Kesimpulan: Rumuskan temuan utama berdasarkan hasil observasi.

6. Refleksi: Jelaskan hal baru yang Anda pelajari mengenai hubungan bahasa dan masyarakat.

Ketentuan tugas:

· Laporan ditulis sepanjang 3–5 halaman.

· Gunakan bahasa Indonesia akademik yang jelas dan sistematis.

· Sertakan tabel data apabila diperlukan.

· Jaga privasi peserta observasi dan hindari pencatatan percakapan pribadi tanpa izin.

· Pastikan setiap kesimpulan didukung oleh data pengamatan.

5.10 Penutup

Pilihan bahasa memperlihatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, melainkan juga bagian dari kehidupan sosial yang dinamis. Melalui bahasa, seseorang membangun kedekatan, menegaskan identitas, menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta memenuhi kebutuhan komunikasi dalam berbagai situasi.

Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Anda perlu memahami bahwa penggunaan bahasa yang tepat tidak hanya bergantung pada penguasaan kaidah bahasa, tetapi juga pada kemampuan mengenali konteks sosial. Seorang pendidik bahasa perlu memahami keragaman pilihan bahasa agar dapat menjelaskan penggunaan bahasa secara proporsional, menghargai bahasa daerah, dan membantu peserta didik mengembangkan keterampilan komunikasi yang sesuai dengan situasi.

Pertanyaan reflektif: Bahasa apa yang paling sering Anda gunakan di rumah, di kampus, dan ketika berkomunikasi melalui media sosial? Apakah Anda menggunakan bahasa yang sama dalam ketiga situasi tersebut? Faktor apa yang membuat Anda memilih bahasa itu?

Cobalah menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pengalaman pribadi. Dengan mengenali pilihan bahasa sendiri, Anda dapat mulai memahami bagaimana bahasa dan kehidupan sosial saling memengaruhi.

Inspirasi

Kolaborasi

Pembelajaran

info@ruangpemuda.info

085145459727

© 2024. All rights reserved.