Stoicism untuk Anak Muda: Belajar Seni "Bodo Amat" pada Hal yang Tak Bisa Dikontrol
Stoicism untuk Anak Muda: Belajar Seni "Bodo Amat" pada Hal yang Tak Bisa Dikontrol Mengapa Kita Terlalu Banyak Mengkhawatirkan Sesuatu? Pernahkah Anda merasa cemas memikirkan komentar orang lain di media sosial? Atau merasa stres karena hasil ujian belum keluar? Mungkin juga Anda pernah kesal berhari-hari karena ditolak dalam seleksi organisasi, beasiswa, atau pekerjaan impian.
4 PILAR
6/24/20265 min read
Hari 4: Stoicism untuk Anak Muda: Belajar Seni "Bodo Amat" pada Hal yang Tak Bisa Dikontrol
Mengapa Kita Terlalu Banyak Mengkhawatirkan Sesuatu?
Pernahkah Anda merasa cemas memikirkan komentar orang lain di media sosial? Atau merasa stres karena hasil ujian belum keluar? Mungkin juga Anda pernah kesal berhari-hari karena ditolak dalam seleksi organisasi, beasiswa, atau pekerjaan impian.
Jika iya, Anda tidak sendirian.
Banyak anak muda saat ini hidup dalam tekanan yang besar. Media sosial membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Persaingan akademik dan dunia kerja semakin ketat. Belum lagi ekspektasi keluarga, lingkungan, dan bahkan ekspektasi yang kita ciptakan sendiri.
Akibatnya, kita menghabiskan terlalu banyak energi untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Di sinilah filosofi Stoicism atau Stoikisme menjadi relevan. Stoicism mengajarkan sebuah prinsip sederhana tetapi sangat kuat:
"Fokuslah pada apa yang bisa kamu kendalikan, dan lepaskan apa yang tidak bisa kamu kendalikan."
Dalam bahasa anak muda zaman sekarang, prinsip ini sering diterjemahkan secara sederhana menjadi:
"Belajar bodo amat pada hal-hal yang memang tidak bisa kita kontrol."
Tentu saja "bodo amat" di sini bukan berarti cuek terhadap semua hal, melainkan kemampuan untuk tidak menghabiskan energi emosional pada sesuatu yang berada di luar kendali kita.
Mari kita pelajari bagaimana filosofi kuno ini dapat membantu anak muda menjadi lebih tenang, tangguh, dan produktif.
Apa Itu Stoicism?
Stoicism adalah aliran filsafat yang lahir di Yunani sekitar 300 tahun sebelum Masehi dan kemudian berkembang di Romawi.
Tokoh-tokoh terkenal dalam Stoicism antara lain:
Epictetus
Seneca
Marcus Aurelius
Meskipun berasal dari ribuan tahun lalu, prinsip-prinsip Stoicism masih relevan hingga saat ini.
Bahkan banyak tokoh modern, atlet, pengusaha, hingga pemimpin organisasi menggunakan prinsip Stoicism untuk menghadapi tekanan hidup dan pekerjaan.
Stoicism bukan tentang menjadi dingin atau tidak memiliki emosi.
Sebaliknya, Stoicism mengajarkan bagaimana mengelola emosi secara bijak agar tidak dikendalikan oleh keadaan.
Prinsip Utama Stoicism: Dikotomi Kendali
Konsep paling terkenal dalam Stoicism adalah Dichotomy of Control atau "Dikotomi Kendali".
Menurut Epictetus:
"Ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan ada hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita."
Yang Bisa Kita Kendalikan
Sikap kita.
Pilihan kita.
Tindakan kita.
Cara kita merespons masalah.
Usaha yang kita lakukan.
Pikiran yang kita pelihara.
Yang Tidak Bisa Kita Kendalikan
Pendapat orang lain.
Masa lalu.
Cuaca.
Keputusan orang lain.
Hasil akhir suatu usaha.
Kondisi ekonomi global.
Algoritma media sosial.
Masalahnya, banyak orang justru lebih fokus memikirkan kategori kedua.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam mengkhawatirkan sesuatu yang tidak dapat diubah.
Ilustrasi: Ujian yang Membuat Stres
Bayangkan seorang mahasiswa bernama Fajar yang baru saja mengikuti ujian akhir semester.
Setelah ujian selesai, Fajar terus memikirkan:
Apakah jawabannya benar?
Apakah dosennya akan memberi nilai bagus?
Bagaimana jika nilainya jelek?
Bagaimana jika IPK turun?
Selama seminggu penuh ia merasa cemas.
Padahal, setelah ujian selesai ada satu hal penting yang perlu disadari:
Fajar sudah tidak bisa mengubah jawabannya.
Nilai yang akan diberikan dosen berada di luar kendalinya.
Yang bisa ia kendalikan hanyalah:
Belajar lebih baik untuk ujian berikutnya.
Mengevaluasi kesalahan.
Menjaga kesehatan mentalnya.
Dengan memahami prinsip Stoicism, Fajar dapat mengurangi kecemasan yang tidak perlu.
Mengapa Stoicism Relevan untuk Anak Muda?
1. Media Sosial Membuat Kita Terlalu Banyak Membandingkan Diri
Setiap hari kita melihat:
Teman yang baru lulus.
Teman yang mendapat pekerjaan.
Teman yang menikah.
Teman yang liburan ke luar negeri.
Tanpa sadar kita mulai berpikir:
"Mengapa hidup mereka lebih baik dari saya?"
Padahal yang kita lihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan mereka.
Stoicism mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak boleh bergantung pada pencapaian orang lain.
Fokuslah pada perkembangan diri sendiri.
2. Banyak Hal Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Anda bisa:
Belajar keras.
Tetapi belum tentu:
Lulus seleksi beasiswa.
Anda bisa:
Bekerja maksimal.
Tetapi belum tentu:
Mendapat promosi.
Stoicism mengajarkan bahwa tugas kita adalah memberikan usaha terbaik.
Hasil akhirnya tidak selalu berada dalam kendali kita.
3. Mengurangi Overthinking
Overthinking sering muncul ketika kita mencoba mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Misalnya:
Apa kata orang tentang saya?
Apakah semua orang menyukai saya?
Apakah saya akan gagal di masa depan?
Pertanyaan seperti ini sering kali tidak memiliki jawaban pasti.
Stoicism membantu kita mengarahkan energi pada tindakan nyata, bukan pada kekhawatiran yang tidak produktif.
Seni "Bodo Amat" yang Sehat
Kata "bodo amat" sering disalahpahami sebagai sikap acuh tak acuh.
Padahal dalam konteks Stoicism, yang dimaksud adalah:
"Saya peduli pada apa yang bisa saya kendalikan, dan saya menerima apa yang tidak bisa saya kendalikan."
Contoh 1: Komentar Negatif
Misalnya Anda mengunggah tulisan di blog atau media sosial.
Lalu ada seseorang yang memberikan komentar negatif.
Yang tidak bisa Anda kontrol:
Apa yang ia pikirkan.
Apa yang ia tulis.
Yang bisa Anda kontrol:
Cara Anda merespons.
Apakah komentar tersebut akan memengaruhi suasana hati Anda.
Apakah kritik tersebut dapat dijadikan bahan perbaikan.
Contoh 2: Ditolak Beasiswa
Yang tidak bisa Anda kontrol:
Keputusan panitia.
Jumlah pesaing.
Yang bisa Anda kontrol:
Kualitas dokumen.
Persiapan wawancara.
Kemampuan yang terus Anda tingkatkan.
Cara Menerapkan Stoicism dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Gunakan Pertanyaan Ajaib
Ketika menghadapi masalah, tanyakan:
"Apakah ini berada dalam kendali saya?"
Jika jawabannya "tidak", berhentilah menghabiskan energi secara berlebihan.
Jika jawabannya "ya", fokuslah pada tindakan yang bisa dilakukan.
2. Fokus pada Proses, Bukan Hasil
Banyak anak muda terlalu fokus pada hasil:
Nilai sempurna.
Gaji tinggi.
Banyak pengikut media sosial.
Padahal hasil tidak selalu dapat dikontrol.
Yang dapat dikontrol adalah prosesnya:
Belajar dengan sungguh-sungguh.
Bekerja dengan disiplin.
Berkarya secara konsisten.
3. Latih Journaling Stoik
Setiap malam, tuliskan:
Apa yang dapat saya kendalikan hari ini?
Apa yang tidak dapat saya kendalikan?
Latihan sederhana ini membantu membangun kesadaran terhadap hal-hal yang layak mendapatkan perhatian.
4. Terima Ketidaksempurnaan Hidup
Stoicism tidak menjanjikan hidup tanpa masalah.
Sebaliknya, Stoicism mengajarkan bahwa masalah adalah bagian alami dari kehidupan.
Ketika kita menerima kenyataan tersebut, kita menjadi lebih siap menghadapi tantangan.
5. Praktikkan "Negative Visualization"
Salah satu teknik Stoik adalah membayangkan kemungkinan terburuk secara realistis.
Misalnya:
Jika gagal dalam wawancara kerja, apa yang akan saya lakukan?
Jika proposal ditolak, apa langkah berikutnya?
Tujuannya bukan menjadi pesimis, melainkan mempersiapkan diri sehingga tidak mudah panik ketika menghadapi kegagalan.
Stoicism dan Produktivitas
Banyak orang tidak menyadari bahwa kecemasan adalah salah satu penghambat produktivitas terbesar.
Ketika energi mental habis untuk mengkhawatirkan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan, fokus terhadap pekerjaan menjadi berkurang.
Stoicism membantu meningkatkan produktivitas dengan cara:
Mengurangi overthinking.
Mengurangi stres.
Meningkatkan fokus.
Membantu pengambilan keputusan.
Membangun ketahanan mental.
Dengan kata lain, Stoicism bukan hanya filosofi hidup, tetapi juga alat praktis untuk bekerja dan belajar lebih efektif.
Pelajaran Penting untuk Generasi Muda
Di era digital yang penuh distraksi dan tekanan sosial, kemampuan membedakan antara apa yang dapat dan tidak dapat dikendalikan menjadi keterampilan yang sangat penting.
Banyak orang kehilangan kebahagiaan karena berusaha mengontrol sesuatu yang memang tidak bisa dikontrol.
Sebaliknya, orang yang lebih tenang biasanya memiliki satu kesamaan:
Mereka fokus pada apa yang dapat mereka lakukan hari ini.
Bukan pada apa yang mungkin terjadi besok.
Penutup
Stoicism mengajarkan bahwa ketenangan hidup tidak datang dari kemampuan mengendalikan dunia, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri sendiri.
Sebagai anak muda, kita akan menghadapi banyak hal yang berada di luar kendali: penilaian orang lain, kegagalan, penolakan, perubahan situasi, dan berbagai ketidakpastian hidup.
Namun kita tetap memiliki kendali atas sikap, usaha, pikiran, dan tindakan yang kita pilih setiap hari.
Belajar seni "bodo amat" ala Stoicism bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli. Sebaliknya, itu berarti menjadi pribadi yang cukup bijak untuk mengetahui mana yang layak diperjuangkan dan mana yang harus dilepaskan.
Karena pada akhirnya, hidup akan terasa lebih ringan ketika kita berhenti memikul beban yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita.
Jadi mulai hari ini, cobalah bertanya pada diri sendiri:
"Apakah ini berada dalam kendali saya?"
Jika tidak, mungkin sudah saatnya Anda belajar untuk melepaskannya.
Daftar Pustaka
Becker, C. B. (2020). Stoicism as a philosophy of resilience. Journal of Philosophy of Life, 10(1), 1–15.
Irvine, W. B. (2019). The stoic challenge: A philosopher's guide to becoming tougher, calmer, and more resilient. W. W. Norton & Company.
Pigliucci, M. (2017). How to be a stoic: Using ancient philosophy to live a modern life. Basic Books.
Robertson, D. (2019). How to think like a Roman emperor: The stoic philosophy of Marcus Aurelius. St. Martin's Press.
Sellars, J. (2019). Lessons in stoicism: What ancient philosophers teach us about how to live. Penguin Books.
Sherman, N. (2021). Stoicism and resilience in contemporary life. Philosophy, Psychiatry, & Psychology, 28(2), 113–126. https://doi.org/10.1353/ppp.2021.0018
Williamson, M. (2018). Stoicism and emotional regulation: Ancient wisdom for modern mental health. Mental Health Review Journal, 23(4), 251–263.
Robertson, D., & Codd, A. (2021). Stoicism, resilience, and wellbeing: An empirical review. International Journal of Wellbeing, 11(3), 1–22. https://doi.org/10.5502/ijw.v11i3.1456
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101860
Snyder, C. R., Lopez, S. J., Edwards, L. M., & Marques, S. C. (2021). Positive psychology: The scientific and practical explorations of human strengths (5th ed.). Sage Publications.
Inspirasi
Kolaborasi
Pembelajaran
info@ruangpemuda.info
085145459727
© 2024. All rights reserved.
