Masalah Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra
Jelajahi masalah penelitian pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dengan pendekatan problem-based learning (PBL). Temukan solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA & SASTRA INDONESIA
Kelompok 2
4/2/20268 min read


Pendahuluan
Masalah penelitian merupakan titik awal yang sangat krusial dalam keseluruhan proses penelitian. Kualitas suatu penelitian sangat ditentukan oleh ketepatan dalam merumuskan masalah. Dalam konteks pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, masalah penelitian seringkali berangkat dari fenomena nyata di lapangan, seperti rendahnya kemampuan literasi siswa, kesulitan memahami teks sastra, atau kurang efektifnya metode pembelajaran bahasa.
Mahasiswa sebagai calon peneliti perlu memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan merumuskan masalah penelitian secara sistematis dan ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran pada minggu ini difokuskan pada penguatan keterampilan tersebut melalui pendekatan Problem-Based Learning (PBL), yang menempatkan masalah sebagai pusat pembelajaran.
Pendekatan PBL diyakini efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan penelitian mahasiswa karena melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran berbasis kasus nyata (Hmelo-Silver, 2004).
Hakikat Masalah Penelitian
Pengertian Masalah Penelitian
Masalah penelitian adalah kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi nyata yang memerlukan solusi melalui penyelidikan ilmiah. Masalah ini dapat berupa fenomena, pertanyaan, atau ketidaksesuaian yang ditemukan dalam praktik pendidikan.
Menurut Creswell (2014), masalah penelitian merupakan isu atau kesenjangan yang perlu dijelaskan atau dipecahkan melalui penelitian ilmiah. Sementara itu, Sugiyono (2019) menyatakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi di lapangan.
Dengan demikian, masalah penelitian bukan sekadar topik umum, tetapi harus spesifik, terfokus, dan dapat diteliti secara empiris.
Karakteristik Masalah Penelitian yang Baik
Tidak semua masalah dapat dijadikan sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian yang baik memiliki beberapa karakteristik berikut:
Relevan
Masalah harus berkaitan dengan bidang ilmu yang dikaji, dalam hal ini pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.Spesifik dan terfokus
Masalah tidak boleh terlalu luas agar dapat diteliti secara mendalam.Dapat diteliti (researchable)
Masalah harus memungkinkan untuk dikaji dengan metode ilmiah dan tersedia data yang mendukung.Memiliki nilai kebaruan (novelty)
Masalah sebaiknya memberikan kontribusi baru bagi pengembangan ilmu atau praktik pendidikan.Bermanfaat
Hasil penelitian harus memberikan dampak positif, baik secara teoritis maupun praktis.Didukung oleh data awal (empiris)
Masalah sebaiknya didasarkan pada fakta atau hasil observasi awal, bukan asumsi semata.
Kriteria ini penting agar penelitian yang dilakukan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perbaikan pembelajaran.
Sumber Masalah Penelitian
Masalah penelitian dalam pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dapat diperoleh dari berbagai sumber, antara lain:
1. Pengalaman Lapangan
Pengalaman mengajar atau observasi di kelas sering menjadi sumber utama masalah penelitian. Misalnya, guru menemukan bahwa siswa kesulitan dalam menulis teks argumentatif.
2. Kajian Literatur
Penelitian terdahulu dapat menjadi sumber inspirasi untuk menemukan celah penelitian (research gap). Mahasiswa dapat mengidentifikasi aspek yang belum diteliti atau hasil penelitian yang masih kontradiktif.
3. Kebijakan Pendidikan
Perubahan kurikulum atau kebijakan pendidikan juga dapat memunculkan masalah penelitian, misalnya implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
4. Fenomena Sosial dan Teknologi
Perkembangan teknologi digital dan media sosial memengaruhi cara siswa belajar bahasa dan sastra, sehingga membuka peluang penelitian baru.
5. Diskusi Akademik
Seminar, forum ilmiah, atau diskusi kelas dapat memicu munculnya ide masalah penelitian.
Langkah-Langkah Mengidentifikasi Masalah Penelitian
Untuk membantu mahasiswa dalam menemukan masalah penelitian, berikut langkah-langkah sistematis yang dapat dilakukan:
Mengamati fenomena (observasi)
Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di lingkungan pendidikan.Mengumpulkan data awal
Data dapat berupa hasil wawancara, observasi, atau dokumen.Mengkaji literatur
Membandingkan fenomena dengan teori atau penelitian terdahulu.Menemukan kesenjangan (gap)
Mengidentifikasi perbedaan antara teori dan praktik.Merumuskan masalah
Menyusun pertanyaan penelitian yang jelas dan terarah.
Perumusan Masalah Penelitian
Perumusan masalah adalah proses menyusun pertanyaan penelitian secara sistematis. Rumusan masalah biasanya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
Contoh Rumusan Masalah:
Bagaimana pengaruh penggunaan media digital terhadap kemampuan menulis siswa?
Apa saja kesulitan siswa dalam memahami teks sastra?
Bagaimana efektivitas metode PBL dalam meningkatkan kemampuan berbicara?
Rumusan masalah yang baik harus memenuhi prinsip:
Jelas dan tidak ambigu
Fokus pada satu masalah utama
Dapat diuji secara empiris
Pendekatan Problem-Based Learning (PBL) dalam Identifikasi Masalah
Pengertian PBL
Problem-Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa dengan menggunakan masalah nyata sebagai stimulus pembelajaran. Dalam PBL, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan mencari solusi terhadap masalah yang diberikan (Barrows, 1986).
Karakteristik PBL
Berbasis masalah nyata
Student-centered learning
Mendorong berpikir kritis
Kolaboratif
Berorientasi pada pemecahan masalah
Langkah-Langkah PBL dalam Pembelajaran
Orientasi masalah
Dosen menyajikan kasus atau fenomena nyata.Organisasi belajar
Mahasiswa dibagi dalam kelompok untuk mendiskusikan masalah.Investigasi mandiri
Mahasiswa mencari informasi dari berbagai sumber.Pengembangan solusi
Mahasiswa merumuskan masalah dan solusi.Presentasi hasil
Hasil diskusi dipresentasikan dan dievaluasi.
Implementasi PBL dalam Mata Kuliah Penelitian
Dalam mata kuliah ini, PBL dapat diterapkan dengan cara:
Memberikan studi kasus tentang masalah pembelajaran bahasa
Meminta mahasiswa mengidentifikasi masalah dari kasus tersebut
Mendorong mahasiswa menyusun rumusan masalah penelitian
Melakukan diskusi kelompok dan presentasi
Contoh Kasus PBL:
Seorang guru menemukan bahwa siswa kurang mampu menulis teks narasi dengan baik meskipun telah diberikan berbagai latihan.
Tugas Mahasiswa:
Identifikasi masalah utama
Tentukan faktor penyebab
Rumuskan masalah penelitian
Usulkan pendekatan penelitian yang sesuai
Peran Masalah Penelitian dalam Keseluruhan Penelitian
Masalah penelitian memiliki peran strategis karena:
Menjadi dasar dalam menentukan tujuan penelitian
Mempengaruhi pemilihan metode penelitian
Menentukan jenis data yang dikumpulkan
Menjadi acuan dalam analisis dan pembahasan
Jika masalah penelitian tidak dirumuskan dengan baik, maka seluruh proses penelitian akan kehilangan arah.
Kesimpulan
Masalah penelitian merupakan fondasi utama dalam penelitian ilmiah. Dalam pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, masalah penelitian dapat berasal dari berbagai sumber, seperti pengalaman lapangan, kajian literatur, dan fenomena sosial. Mahasiswa perlu memahami cara mengidentifikasi dan merumuskan masalah secara sistematis agar penelitian yang dilakukan memiliki kualitas yang baik.
Pendekatan Problem-Based Learning (PBL) sangat efektif dalam melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan mampu mengidentifikasi masalah penelitian secara kontekstual. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata.
Daftar Pustaka
Barrows, H. S. (1986). A taxonomy of problem‐based learning methods. Medical Education, 20(6), 481–486. https://doi.org/10.1111/j.1365-2923.1986.tb01386.x
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage Publications.
Hmelo-Silver, C. E. (2004). Problem-based learning: What and how do students learn? Educational Psychology Review, 16(3), 235–266. https://doi.org/10.1023/B:EDPR.0000034022.16470.f3
Sugiyono. (2019). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta.
Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). McGraw-Hill.
https://www.ruangpemuda.info/penelitian-pendidikan-bahasa-and-sastra-indonesia
Komentar Umum untuk Makalah ini
Makalah ini menunjukkan upaya yang cukup serius dan matang secara konseptual. Struktur penulisan sudah sistematis, pembahasan luas, dan terlihat bahwa penulis memiliki pemahaman teoritis yang baik tentang “masalah penelitian”. Penggunaan istilah seperti das sollen vs das sein, FINER, dan SMART menunjukkan literasi metodologi yang cukup kuat.
Namun demikian, makalah ini masih cenderung terlalu konseptual dan deskriptif, belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan analitis dan aplikatif yang menjadi tujuan utama mata kuliah penelitian.
Kelebihan Makalah
Struktur sistematis dan lengkap
Sudah mengikuti kaidah penulisan ilmiah: pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar pustaka.Kedalaman teori cukup baik
Pembahasan tidak dangkal, bahkan melampaui standar makalah mahasiswa pada umumnya.Bahasa akademik relatif kuat
Diksi yang digunakan sudah ilmiah, argumentatif, dan meyakinkan.Cakupan materi luas
Mulai dari filosofi hingga kesalahan umum mahasiswa—ini menunjukkan usaha eksplorasi yang baik.
Kritik (Hal yang Perlu Diperbaiki)
1. Terlalu Teoretis, Kurang Kontekstual
Makalah ini masih didominasi oleh teori. Padahal, sebagai mahasiswa pendidikan Bahasa Indonesia, seharusnya mulai diarahkan pada:
Contoh kasus nyata di sekolah
Data awal (meskipun sederhana)
Konteks lokal (misalnya Polewali Mandar)
👉 Saran: Tambahkan mini studi kasus atau ilustrasi konkret agar pembahasan tidak mengawang.
✍️ CONTOH REVISI (Versi Lebih Kontekstual & Aplikatif)
🔹 Tambahan pada Latar Belakang
Dalam konteks nyata di lapangan, masalah penelitian tidak hanya bersifat konseptual, tetapi benar-benar dialami dalam praktik pembelajaran. Misalnya, berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di salah satu sekolah menengah pertama di wilayah Polewali Mandar, ditemukan bahwa kemampuan siswa dalam membaca nyaring (read aloud) masih tergolong rendah. Dari 25 siswa di kelas VII, hanya sekitar 8 siswa (32%) yang mampu membaca teks dengan lafal, intonasi, dan jeda yang tepat sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagian besar siswa lainnya masih membaca secara terbata-bata dan kurang memahami isi bacaan.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan kurikulum (das sollen) yang menuntut siswa memiliki keterampilan membaca yang baik dengan kenyataan di lapangan (das sein) yang masih jauh dari target. Lebih lanjut, hasil wawancara singkat dengan guru Bahasa Indonesia di sekolah tersebut mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan membaca siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kurangnya kebiasaan membaca di rumah, minimnya media pembelajaran yang menarik, serta metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional.
Jika kondisi ini tidak segera diteliti dan dicarikan solusi, maka akan berdampak pada keterampilan berbahasa lainnya, seperti menulis dan berbicara. Oleh karena itu, fenomena ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan masalah penelitian yang konkret, relevan, dan layak untuk diteliti, khususnya dalam bidang Pendidikan Bahasa Indonesia.
🔹 Contoh Tambahan pada BAB II (Aplikasi Teori)
Sebagai ilustrasi penerapan konsep masalah penelitian, dapat dilihat pada kasus rendahnya kemampuan membaca siswa di daerah Polewali Mandar. Secara teoretis, masalah penelitian muncul karena adanya kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata. Dalam kasus ini, kondisi idealnya adalah siswa mampu membaca dengan lancar sesuai standar kurikulum, sedangkan kondisi nyatanya menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai kompetensi tersebut.
Jika dianalisis menggunakan kriteria FINER, maka masalah ini:
Feasible: dapat diteliti karena subjek dan data tersedia
Interesting: menarik karena berkaitan langsung dengan pembelajaran
Novel: memiliki kebaruan jika dikaitkan dengan konteks lokal
Ethical: tidak melanggar norma
Relevant: penting bagi peningkatan kualitas pendidikan
Dengan demikian, masalah tersebut tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga memiliki dasar empiris yang kuat dan layak dijadikan fokus penelitian.
🎯 Kenapa Contoh Ini Baik untuk Mahasiswa
Contoh di atas sudah memenuhi:
✅ Ada data awal (meskipun sederhana)
✅ Ada konteks lokal (Polewali Mandar)
✅ Ada hubungan teori ↔ praktik
✅ Tidak lagi “mengawang”
💬 Catatan untuk Mahasiswa
“Penelitian yang baik selalu berangkat dari realitas, bukan hanya dari buku. Teori itu penting, tetapi tanpa data lapangan, penelitian Anda akan kehilangan pijakan.”
2. Tidak Ada Analisis Kritis
Mahasiswa hanya menyajikan teori dari para ahli tanpa:
Membandingkan pendapat
Memberikan kritik terhadap teori
Menunjukkan posisi mereka sendiri
👉 Ini menunjukkan kemampuan masih pada level C2–C3 (memahami & menjelaskan), belum sampai C4 (analisis).
❌ Contoh Lama (Deskriptif saja – C2/C3)
Menurut Sugiyono (2017), masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi. Kerlinger menyatakan bahwa masalah adalah pertanyaan mengenai hubungan antar variabel. Sementara itu, Arikunto menekankan bahwa masalah menentukan kualitas instrumen penelitian.
📌 Masalahnya:
Hanya merangkum pendapat
Tidak ada hubungan antar teori
Tidak ada sikap penulis
✅ Contoh Revisi (Analisis Kritis – C4)
Menurut Sugiyono (2017), masalah penelitian dipahami sebagai adanya penyimpangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata. Pandangan ini menekankan pentingnya konteks empiris sebagai dasar munculnya masalah. Berbeda dengan itu, Kerlinger memandang masalah sebagai pertanyaan yang menghubungkan dua variabel atau lebih, sehingga lebih berorientasi pada hubungan kausal dalam penelitian kuantitatif. Sementara itu, Arikunto menyoroti implikasi praktis dari perumusan masalah, khususnya dalam menentukan kualitas instrumen penelitian.
Jika dibandingkan, ketiga pandangan tersebut menunjukkan fokus yang berbeda: Sugiyono lebih kontekstual, Kerlinger lebih struktural-analitis, dan Arikunto lebih teknis-operasional. Namun demikian, dalam konteks penelitian pendidikan Bahasa Indonesia di lapangan, pendekatan Sugiyono cenderung lebih relevan digunakan oleh peneliti pemula karena membantu mereka berangkat dari fenomena nyata yang mudah diamati.
Meskipun demikian, kelemahan pendekatan Sugiyono adalah kurang memberikan panduan tentang bagaimana merumuskan hubungan antar variabel secara spesifik. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kombinasi antara pendekatan Sugiyono dan Kerlinger akan lebih ideal, yaitu dengan memulai dari masalah empiris, kemudian merumuskannya ke dalam hubungan variabel yang jelas agar dapat diteliti secara sistematis.
🧠 Struktur Analisis Kritis
Agar mahasiswa mudah, ajarkan pola ini:
1. Paparkan teori (singkat saja)
Menurut A..., B..., C...
2. Bandingkan
Jika dibandingkan, teori A lebih..., sedangkan B...
3. Kritik
Namun, kelemahan teori A adalah...
4. Posisi penulis
Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa...
🎯 Contoh Kedua Lebih Sederhana
Teori FINER dan SMART sama-sama digunakan untuk menilai kelayakan masalah penelitian. FINER lebih menekankan pada aspek kelayakan dan etika penelitian, sedangkan SMART berfokus pada kejelasan dan keterukuran masalah. Jika dibandingkan, SMART lebih mudah dipahami oleh mahasiswa pemula karena bersifat praktis. Namun, SMART memiliki kelemahan karena tidak mempertimbangkan aspek etika dan kebaruan penelitian. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kedua kriteria tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan agar masalah penelitian yang dihasilkan tidak hanya jelas, tetapi juga layak dan relevan.
💬 Catatan untuk Mahasiswa
“Jangan hanya menjadi ‘penyalin teori’. Tugas Anda sebagai peneliti adalah berdialog dengan teori: membandingkan, mengkritisi, dan mengambil posisi.”
3. Ada Bagian yang Tidak Relevan / Salah Masuk
4. Inkonsistensi Penomoran
BAB IV tertulis, tetapi isi hanya sampai BAB III
Penomoran bab dan subbab tidak konsisten (misalnya spasi, titik, dll.)
👉 Ini menunjukkan kurangnya ketelitian teknis.
5. Rumusan Masalah Kurang Tajam
Rumusan masalah masih bersifat:
Umum
Teoretis
Belum mengarah pada:
Masalah penelitian yang operasional
Variabel yang jelas
6. Daftar Pustaka Kurang Mutakhir
Sebagian besar referensi:
Buku lama
Tidak ada jurnal terbaru
👉 Untuk penelitian pendidikan saat ini, mahasiswa perlu mulai menggunakan:
Jurnal nasional terakreditasi
Jurnal internasional
Saran Perbaikan
Tambahkan konteks lokal
Misalnya:Masalah literasi di sekolah sekitar
Pengalaman PPL/KKN
Observasi sederhana
Latih analisis kritis
Jangan hanya menulis:
“Menurut ahli A…”
Tapi lanjutkan dengan:
Apakah relevan?
Apa kelemahannya?
Bagaimana penerapannya?
Perbaiki aspek teknis
Cek ulang penomoran
Hapus bagian tidak relevan
Rapikan format
Gunakan referensi terbaru
Minimal:5–10 jurnal 5 tahun terakhir
Mulai berpikir sebagai peneliti, bukan penulis ringkasan
Fokus pada:“Masalah apa yang benar-benar terjadi?”
“Apa yang belum terjawab?”
Penilaian (Simulasi)
Pemahaman konsep: 85
Sistematika penulisan: 80
Analisis kritis: 70
Ketelitian teknis: 70
Keterkaitan dengan praktik: 65
👉 Nilai akhir: 75–80 (B+)
Penutup
Secara keseluruhan, makalah ini sudah berada di atas rata-rata, namun masih perlu didorong untuk lebih kritis, kontekstual, dan aplikatif. Ke depan, saya berharap penulis tidak hanya mampu menjelaskan teori, tetapi juga mampu mengidentifikasi dan merumuskan masalah penelitian yang nyata di lapangan.
Inspirasi
Kolaborasi
Pembelajaran
info@ruangpemuda.info
085145459727
© 2024. All rights reserved.


